Unrepressed

InterSastra mempersembahkan Unrepressed, serial dwibahasa yang terdiri dari cerpen, syair, dan esai kreatif, diterbitkan secara daring dengan tujuan mengangkat dan mendorong tulisan yang menyelusuri secara kritis tema-tema yang dianggap penting bagi masyarakat tapi sulit dibicarakan.

Tema-tema tersebut bisa jadi dianggap tabu atau kontroversial, semisal kesetaraan gender, seksualitas, isu lingkungan, kesehatan jiwa, hubungan antarsuku atau kelas sosial, interpretasi agama, dan banyak lainnya. Beberapa tulisan dalam serial ini bisa jadi pernah disensor atau dilarang, beberapa penulisnya bisa jadi pernah mengalami serangan atau ancaman. Namun, ruang ini terbuka bagi semua karya yang dalam penilaian kami menawarkan eksplorasi segar tentang, dan memperluas kemungkinan untuk, membicarakan tema-tema tersebut.

Karya-karya yang ditulis dalam bahasa Indonesia akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dan karya-karya yang ditulis dalam bahasa lain akan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sesekali kami akan menerbitkan tanya-jawab dengan penulis untuk mendiskusikan kepenulisan mereka dan pengalaman mereka menghadapi halangan yang datang dari luar, misalnya pembredelan atau pengucilan, dan halangan yang datang dari dalam, seperti perasaan takut, malu, atau tak berdaya.

Sebelumnya serial ini bertajuk Defiant Voices, yang kami terbitkan untuk melawan pemberangusan buku dan maraknya serangan terhadap acara diskusi, peluncuran buku, pembacaan puisi, pameran seni, dan pelbagai acara budaya lainnya di Indonesia. Serangan-serangan itu terjadi walaupun sejak runtuhnya Orde Baru pada 1998, Indonesia telah mengamandemen konstitusi dan mengesahkan berbagai hukum yang menjamin kebebasan berekspresi berikut hak-hak asasi manusia lainnya.

Dengan mengganti judul serial menjadi Unrepressed kami ingin memperluas tema-tema yang dapat kami terbitkan. Bukan berarti kami hanya menerbitkan mereka yang telah berhasil menaklukkan segala bentuk represi, kami sadar beberapa penulis yang kami terbitkan dalam serial ini masih mengalami penindasan yang nyata seperti dipenjara atau diasingkan dari tanah air. Namun, karya mereka menunjukkan jiwa yang menolak tunduk demi menyuarakan kebenaran yang mereka amati.

Seperti sebelumnya, kami ingin memperlihatkan keberanian di hadapan tindakan represif. Kami ingin menekankan bahkan semua orang memiliki kebebasan untuk membaca dan menulis. Kami percaya setiap orang dapat membaca dan mempertimbangkan sendiri nilai suatu karya. Kelompok intoleran tak dapat dibiarkan mendikte apa yang boleh atau tak boleh kita baca, tak dapat dibiarkan merumuskan sendiri apa makna nilai-nilai Indonesia. Kami menyatakan solidaritas dengan penulis yang mengalami represi di mana saja dan memuji keberanian mereka untuk terus menulis.

Selamat membaca!

 

#Unrepressed 

#Defiant_Voices

 Vendy Methodos

Vendy Methodos

Unrepressed is a bilingual, online series of short literary works to promote and encourage writing that explores critically themes around which there is still much silencing.

Such themes may be considered taboo or controversial, such as gender equality, sexuality, environmental concerns, challenging religious dogma, mental health, race and class relations, and many more. Some of the writings we publish in this series may have been challenged or banned, some of the authors may have experienced harassment, attacks, or persecution. This space, however, is open to any work that we think in some way offers new possibilities to talk about such themes.

Works written in Indonesian will be translated into English, and works written in other languages will be translated into Indonesian. Occasionally we will publish Q&As with featured authors to discuss their writing life and experiences facing external obstacles, such as censorship or threats, and constraints that come from within, such as feelings of fear, shame, or powerlessness.

Previously this series was called Defiant Voices, which we started to respond to the growing incidents of attacks on discussions, book launches, readings, performances, exhibitions, and other cultural events in Indonesia. Those attacks occurred even though since the fall of the authoritarian New Order regime in 1998, Indonesia has amended the constitution and signed laws to guarantee freedom of expression along with other human rights.

By renaming the series Unrepressed, we wish to expand the range of themes we are able to publish. It doesn't mean we're only publishing writers who have overcome repression, we realize that some of the authors we are publishing are still suffering oppression, but their works are showing an unrepressed spirit in voicing the truths that they see.

As before, we assert that we all have the freedom to read and write. We believe that everyone should be able to read and decide for themselves what a book or a literary work has to offer them. Intolerant groups cannot be allowed to decide what we may or may not read, cannot be allowed to define by themselves what it means to be Indonesian. We stand in solidarity with writers who are facing repression anywhere in the world and acknowledge their courage to keep writing.

We hope you'll enjoy reading the series.


DAFTAR ISI | CONTENT

 Đinh Trường Chinh

Đinh Trường Chinh

"Citarasa Air" oleh Nhã Thuyên

kapankah sungai hanyalah sungai dan laut hanyalah laut, kapankah, akankah aku, sungai, laut, perairan-perairan ini, berhenti memikul takdir, ihwal, kodrat, ... benarkah, hidup di perairan kita, perairanku, tak ada jalan lain kecuali mengambang

Nhã Thuyên’s most recent poetry book words breathe, creatures of elsewhere (từ thở, những người lạ) was published in Vietnamese (Nha Nam, 2015) and in English translation by Kaitlin Rees (Vagabond Press, 2016). With Kaitlin Rees, they found AJAR, a small bilingual literary journal-press, an online, printed space for poetic exchange. Having been struggling with the desire of not-making-more-things and be vanishing in the dust, they are surviving with some nonsense and soliloquies as having no other emergencies of life to deal with.

 Agus Wiryadhi

Agus Wiryadhi

Poems by Kadek Sonia Piscayanti

Andai kebebasan itu nihil harganya
Aku akan menulis lebih banyak lagi
Aku akan menulis takdirku sendiri

Kadek Sonia Piscayanti teaches literature and creative writing at Ganesha University of Education. She has published several books, such as Karena Saya Ingin Berlari (2007), The Story of A Tree (2014), and Perempuan Tanpa Nama (2015). She has spoken about women and identity in national and international forums. In her hometown Singaraja, Bali, she established an independent publisher, Mahima Institute Indonesia, and manages Mahima Community for arts and culture. Both aim to nurture love of literature among students and young people.

 IG @tupsky

IG @tupsky

Poems by Ros Aruna

she did not wish it to disappear, the scar
she acquired at twenty-three
from which a life was born.

Ros Aruna menulis puisi tentang kelahiran dan kanker, lipstik dan lembur, dan menggambarkan bagaimana bagi perempuan hidup dan mati, kekasih dan kekangan, bisa jadi dua muka dari keping yang sama, seperti halnya dirinya dan tubuhnya yang seolah bukan miliknya. Buku puisinya, Betina Paling Jalang di Dunia, akan terbit Juli 2018. 

 Dewi Candraningrum

Dewi Candraningrum

Poems by Wiji Thukul

being yourself
is a subversive act
in this country

Wiji Thukul is modern Indonesia’s most famous people’s poet. With humble words but extraordinary courage, his poems recount the everyday struggle of the poor and downtrodden. The power of his words, which he read at workers and farmers rallies, attracted authorities’ attention and he became a wanted man. His family and friends last heard from him in February 1998. Many suspect he was disappeared by the New Order regime. Thukul is now an icon for people power in Indonesia.

 Richard Westall

Richard Westall

"Malaikat Pemberontak" oleh John Milton

Apa yang terjadi ketika seorang malaikat berani menentang Sang Penguasa Surga, yang dianggapnya adalah seorang tiran?

John Milton merampungkan karyanya yang paling terkenal, Paradise Lost, pada 1663. Epos itu diterbitkan pada 1667, meraih sukses yang luar biasa, dan sampai sekarang sering disebut sebagai salah satu karya bahasa Inggris terbaik sepanjang sejarah. Ia juga menerbitkan Areopagitica, sebuah pidato yang mendukung kebebasan berekspresi dan dipuji sebagai salah satu dokumen terbaik yang mengangkat tema itu. Karya-karya Milton lainnya termasuk History of Britain (1670), Paradise Regained (1671), dan Samson Agonistes (1671).

"Kunanti Datangnya Setan" oleh Mary MacLane

Aku terlalu muda untuk memikirkan damai. Bukan damai yang kuinginkan. Damai untuk mereka yang empat puluh dan lima puluh tahun. Aku menanti Pengalaman. Aku menanti datangnya Setan.

Mary MacLane adalah seorang penulis, feminis, dan pendobrak tabu. Ia menulis memoar dengan gaya pengakuan yang unik, jujur, dan dahsyat. Buku-bukunya berjudul The Story of Mary MacLane (1902), My Friend, Annabel Lee (1903), dan I, Mary MacLane (1917). Berkat bakat dan kerja kerasnya menulis, ia berhasil keluar dari kota asalnya yang terpencil, menjadi penulis yang amat populer, dan hidup sesuai keinginannya.

Harriet_Beecher_Stowe_by_Francis_Holl.JPG

"Orang yang Dianggap Barang" oleh Harriet Beecher Stowe

Nukilan novel yang menggambarkan dengan sangat hidup penderitaan dan ketidakadilan yang dialami para budak.

Harriet Beecher Stowe menulis novel, memoar, serta surat dan artikel. Novelnya yang paling terkenal adalah Uncle Tom's Cabin yang menyuarakan pedihnya kehidupan orang kulit hitam dalam perbudakan. Novel tersebut luar biasa populer dan mengubah pandangan masyarakat Amerika tentang perbudakan.

"Hikayat Cinta" oleh Ak Welsapar

Seorang putra tersiksa antara cintanya kepada ibu dan kekasihnya. Benarkah tak ada cukup ruang dalam hati laki-laki untuk dua perempuan?

Ak Welsapar adalah seorang penulis yang telah menerbitkan lebih daripada 20 buku. Di Turkmenistan, negara asalnya, buku-bukunya dicabut dari toko buku dan perpustakaan, dan dibakar. Ia mesti meninggalkan tanah airnya dan kini bermukim di Swedia. Novelnya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris berjudul The Tale of Aypi.

"Stephen & Angela" oleh Radclyffe Hall

Kisah cinta Nona Stephen Gordon dengan Nyonya Angela Crossby. Kata Stephen kepada Angela: “Jika cinta kita adalah dosa, surga pasti penuh dengan orang-orang yang berdosa seperti kita.”

Radclyffe Hall adalah penyair dan penulis novel the Well of Loneliness (terbit 1928). Novel tersebut dihentikan penerbitannya di Amerika Serikat dan divonis cabul oleh pengadilan Inggris karena mengetengahkan kisah cinta lesbian. Kontroversi itu justru melimpahkan perhatian terhadap novel dan topik tersebut.

"Hatcha-bu" oleh Hamid Ismailov

Setelah suaminya wafat dan anak-anaknya meninggalkannya, Hatcha-bu mengurus cucu-cucunya seorang diri. Suatu hari datanglah seorang pemuda yang mengingatkannya akan masa lalu.

Hamid Ismailov adalah penulis novel the Railway, the Dead Lake, the Underground, dan masih banyak lagi. Ia berasal dari Uzbekistan—di sana semua buku karyanya diberangus dan namanya pun tak boleh disebut. Pada 1992 ia dipaksa mengungsi dari tanah air dan hingga kini tak dapat kembali. Ia tinggal di Inggris dan terus menulis tentang berbagai tema yang hangat di dunia Islam.

"Kairo Kami" oleh Ahmed Naji

Pemuda dua puluhan menikmati masa muda bersama kawan-kawan sehati di Kairo—berpesta dan bercinta di Kairo mereka.

Ahmed Naji dijatuhi hukuman penjara karena tulisannya dalam novel Istikhdam al-Hayah (Using Life atau The Use of Life) dianggap merusak moral pembaca. Tanggal 12 Mei 2016, penulis di berbagai belahan dunia mengadakan acara solidaritas membaca dan mendiskusikan karyanya.

Syair-syair Ashraf Fayadh

darah bisumu takkan bicara
selama kaubanggakan dirimu dalam maut
selama terus kauumumkan, diam-diam, kauletakkan jiwamu
di tangan-tangan mereka yang tak tahu…

Pemerintah Arab Saudi menuduh karya Ashraf Fayadh mempertanyakan agama dan menyebarkan ateisme, lalu menjebloskannya ke penjara. Ashraf Fayadh sendiri membantah tuduhan itu dan mengatakan syair-syairnya adalah tentang kehidupannya sebagai pengungsi Palestina di Saudi.

Eliza HandayaniComment