Kadek Sonia Piscayanti

 Kadek Heny Sayukti

Kadek Heny Sayukti

WAJAH YANG GAGAL

Jika bukan karena wajah ini
Kau takkan menikahiku
Jika bukan karena wajah ini
Aku takkan menjadi "kita"

Kini aku tak lagi membutuhkan wajah ini
Untuk menyenangkanmu
Maka aku membakarnya
Supaya kutahu apakah kau masih mencintaiku
Tanpa wajahku

Aku sadar engkau terluka
Tetapi aku jauh lebih terluka
Tidak memiliki wajah
Dan tidak memiliki cinta
Dan bahkan tidak satu keping pun api dalam diri ini

 

KISAH API

Suatu ketika aku membacakan cerita untuk anak-anak.
Mereka menyimak.
Aku merenung
Sambil membaca.

Cerita itu tentang laut yang berkobar.
Suatu hari, api raksasa menyala di lautan.
Api itu kian bertambah besar, tapi laut tak kunjung hangus.
Anak-anak mengamatinya dari pesisir.
Matahari terbenam. Laut yang terbakar tampak menakjubkan.
Dewi Api terbang turun dari langit.
Sang dewi mengetukkan tongkat dan menumpahkan hujan yang dahsyat.
Anak-anak menjadi basah. Mereka terus mengamati.

Aku berhenti.

Anakku yang sembilan tahun bertanya,
"Bagaimana cara menghentikan api itu?"
Jawabku, "Tak ada yang bisa menghentikannya."
Anakku yang dua tahun bertanya,
"Bagaimana akhir ceritanya?"
Jawabku, "Tak ada akhirnya. Api itu terus berkobar."
"Begitu saja?"

Aku berhenti. "Api itu terus menyala. Hujan terus tercurah."
Aku menambahkan, "Kini leburkanlah cerita itu ke benak kalian. Ayo!"
Aku menutup buku.
Mereka menutup mata.
Melebur cerita itu ke benak mereka.

 

 Kadek Heny Sayukti

Kadek Heny Sayukti

ADIK TERSAYANG

Dua minggu yang lalu kita pergi bersama
Ke tempat ini
Menyaksikan pembakaran
Berbagi cerita
Berbagi cemas
Berbagi mimpi
Dan berbagi ketakutan

Adik tersayang
Pagi ini aku pergi sendiri
Menyaksikan pembakaran seorang diri
Aku tak mendengar apa-apa
Aku tak berbagi apa-apa

Aku berharap pembakaran itu berhenti
Dan dunia ternyata salah
Dan aku ternyata tabah
Dan api bukanlah api

Tetapi
Pembakaran terus berlangsung
Engkau di sana, dulu orang, lalu jazad, lalu tiada
Aku mematung, tak mampu merenggutmu dari api
Yang tak membawa dirimu ke mana-mana
Aku tak di mana-mana

Baru dua minggu lalu kita di sini bersama
Menonton pembakaran bersama

Kini kau yang di sana
Untuk dibakar dan menjadi tiada

Pembakaran tidak membawamu ke mana-mana
Dan membawamu ke segala arah
Aku menanti waktuku untuk ke sana
Melalui api menemukan jalan kita kembali bersama

 

JALAN YANG TERBAKAR

Jalan itu bukanlah jalan
jika tidak untuk ditempuh orang
Jalan itu bukanlah jalan
jika tidak untuk menggelar takdir
Jalan itu bukanlah jalan
jika ia berkobar sepanjang jarak
antara engkau dan Aku

Apa yang kauingin Kulakukan?

Aku tidak butuh jalan ini.
Aku akan membakarnya,
sebelum Kau sempat mengatakan apa yang Kauinginkan.
Akan kubakar segala
yang mengantarkanku kepada-Mu.


Tapi jalan ini tidak bisa dibakar.

Mengapa?

Karena jalan ini bukan sembarang jalan.
Jalan ini adalah takdir.
Kau tak dapat membakarnya.

Omong kosong.
Aku bisa membakar apa saja.

Tapi tidak jalan ini.

Ia terbakar sekarang.

Akan selamanya terbakar.

Persis itulah yang kuinginkan.
Aku membakarnya agar aku takkan pernah sampai kepada-Mu.

 

 Kadek Heny Sayukti

Kadek Heny Sayukti

TAK ADA JALAN KEMBALI

Andai kebebasan itu nihil harganya
Aku akan menulis dengan bebas
Aku akan menulis puisi tentang perempuan Bali
Perempuan yang paham penjara lebih baik daripada narapidana
Perempuan yang menggantung dirinya dan gagal
Perempuan yang menangis setiap hari dan senantiasa tegar
Perempuan yang disalahkan dan tetap tenang
Perempuan yang membesarkan anak-anak dan memiliki sihir hitam
Perempuan yang melakukan segalanya dan tidak mendapatkan apa-apa

Andai kebebasan itu nihil harganya
Aku akan bungkam mereka semua
Aku akan menulis lebih banyak lagi, tidak hanya satu puisi
Aku akan menulis sejarah airmata dan amarah kami
Aku akan menulis kisah kehidupan nyata kami
Aku akan menulis takdirku sendiri

Andai kebebasan itu nihil harganya
Aku akan membakar segala bencana
Aku akan membakar segala kebiasaan
Aku akan membakar segala omong kosong mereka!

Andai saja kebebasan itu nihil harganya
Aku akan bangkit dan bicara di hadapan Tuhan

Kami tidak bebas
Kami tidak bebas
Bebaskan kami
Bebaskan kami

Andai saja kebebasan itu nihil harganya
Aku tidak akan ada di sini

 

© Kadek Sonia Piscayanti

Terjemahan bahasa Indonesia © InterSastra

 


A FAILED FACE

If not because of this face
You wouldn't have married me
If not because of this face
I wouldn't have been "we"

Now I don't need that face
To please you
So I burn it
To see if you'll still love me
Without my face

I know that it hurts you
But it hurts me even more
To have no face
And no love
And not even a single spark of fire flickering within

 

 Kadek Heny Sukyanti

Kadek Heny Sukyanti

FIRE TALE

Tonight I read my kids a story
They are listening.
I am thinking
As I am reading.

This is a story about the sea on fire.
One day, a giant fire rises upon the sea.
The flame grows bigger and bigger, but the sea is not burned.
The children watch by the beach.
It is sunset. The burning sea looks magnificent.
The Goddess of Fire flies down from the sky.
She taps a stick and pours down heavy rain.
The children get wet. They keep watching.
 
I stop.

My nine-year old ask, "Does it stop the burning?"
I say, "Nothing can stop the burning."
My two-year old ask, "How does it end?"
I say, "It doesn't end. The fire keeps burning."
"Is that all?"

I pause. "The fire keeps burning. The rain keeps pouring."
I add, "Now, burn that story into your mind. Sear it."
I close the book.
They close their eyes.
Burning the story into their mind.

 

DEAR SISTER

Two weeks ago we went together
To this place
We watched the burning together
We shared stories
We shared worries
We shared dreams
We shared nightmares

Dear sister
This morning I went alone
I watched the burning alone
I heard nothing
I shared nothing

I hoped that the burning would stop
And the world was wrong
And I was strong
And fire was not fire

But
The burning went on
You were there, from somebody, to a body, to nobody
I stood still, I couldn't help you off the fire
The burning would get you nowhere
And I was nowhere

Your hair, newly cut, was still there
Your skin, with freckles and wrinkles
Your fragile teeth, grey, brown, and black with cracks
Shadows of your past danced at a glance
Just two weeks ago we were here together
We watched the burning together

Now you were there
To be burned to nothing

The burning got you nowhere but everywhere
I will wait for my time to get there
Through the burning
We'll find our way back there

 

 Kadek Heny Sukyanti

Kadek Heny Sukyanti

THE BURNING ROAD

A road is not a road,
unless people go through it.
A road is not a road,
unless destiny flows through it.
A road is not a road,
if fire roars through it,
all the way from you to Me.

What do you want Me to do?

I don't need this road.
I will burn it, before You can say what You want.
I will burn everything
that leads me to You.

But this road can't be burned.

Why?

Because this is not just any road.
This is your destiny.
You can't burn it.

Bullshit.
I can burn anything.

Not this road.

It is burning now.

Then it will forever be burnt.

That's exactly what I want.
I'm burning it, so I will never reach You.

 

NO TURNING BACK

If freedom were free
I would write freely
I would write a poem about a Balinese woman
A woman who knows prison better than prisoners
A woman who hangs herself and fails
A woman who cries everyday and stays strong
A woman who gets blamed and remains calm
A woman who raises a family and dishes out black magic
A woman who does everything and gets nothing

If freedom were free
I would shut them up
I would write so much more, more than just a poem
I would write a history of our tears and anger
I would write a story of our real lives
I would write my own destiny

If freedom were free
I would burn all the disasters
I would burn the habits
I would burn all the bullshit

If only freedom were free
I would rise and speak before God

We are not free
We are not free
Free us
Free us

If only freedom were free
I would not be here

 

© Kadek Sonia Piscayanti


 Agus Wiryadhi

Agus Wiryadhi

Kadek Sonia Piscayanti teaches literature and creative writing at Ganesha University of Education. She has published several books, such as Karena Saya Ingin Berlari (2007), The Story of A Tree (2014), and Perempuan Tanpa Nama (2015). She has spoken about women and identity in OzAsia Festival, Ubud Writers and Readers Festival, and Asia Pacific Writers and Translators Summit. She was also invited as a fellow at the creative writing program, Griffith University, Gold Coast. She wrote and directed the play Layonsari in the Netherlands and France. As an academic, she has presented her papers at national and international conferences. In her hometown Singaraja, Bali, she has established an independent publisher, Mahima Institute Indonesia, and she manages Mahima Community for arts and culture. Both organizations aim to nurture love of literature among students and young people.