Hong Ying

AKU INI JUGA SALAMMBO

Tak ada yang ingat aku   tapi tak mengapa
Tak ada yang tersisa dari bendi yang berlalu
Dan bilur cambuknya kini tak lagi sembilu
Mencintai seseorang
Menjadi sebuah mimpi
Hampa yang lebih raya dibanding tiada mimpi

Aku mati
Dan tak tahu apa-apa
Keindahan telah binasa   pun masa-masa itu
Di laut kini tak ada burung terlihat
Beri aku segelas anggur merah
Beri aku sebuah apel merah
Salammbo hanya sebuah nama

Kalian semua miskin semangat
Lihat awan-awan di angkasa tapi lupa cara melihat mereka
Cara melipat beragam persegi
Cara orang bisa raib
Aku ingat ia menghampiriku
Dan berkata   tataplah mataku

Matanya penuh nafsu   penuh tembang pilu
Ia pejamkan mata
Matanya sedingin es
Bibirku mengecup matanya dan matanya terbakar bagai api
Begitulah   kini ia orang yang sangat semangat

 

ANAK LUAR NIKAH

Tak kutemukan lelaki yang menguburku   ia berlandang
Ia juga membunuh kelinciku
Atap di atas semak-semak
Musim panas yang pecah
Tersepih-serpih di seluruh taman

Lengan dan tungkai ibuku dikebat
Bagian atas wajahnya menyembur darah ranting merah
Pipi-pipinya   belum juga busuk hingga kini
Kulihat gambar yang kubuat waktu aku usia tiga
Waktu aku jauh di dalam gunung
Belajar menghirup udara segar
Larut dalam menjiplak penistaan ibuku

Kuas patah dua   nodai merah jemari
Air yang menetes ke bumi   tak pernah kembali
Ayah mencari epitet   malah ketemu cemeti
Ia tahu ia buat banyak salah   mungkin akan tambah banyak
Ia berkata   mubazir ada kau
Reinkarnasi tak mengubah apa-apa

 

KISAH KAU DAN AKU

Bagaimana menggambarkanmu?
Kini begitu banyak waktu telah berlalu
Ranjang berdebu   lemari bertumbuh belukar
Cahaya tak datang dari atas   tapi bersinar dari bawah
Bersama kita arungi dunia dan diam di rumah
Larut malam atau waktu fajar sama saja bagi kita
Tapi ketika cekcok pun terdengar dari lantai atas
Ketika batuk-batuk akrab   berubah jadi maki-maki
Aku lupa cinta kita cinta yang langgeng
Bahkan kukira ia kambing gunung saat pertama jumpa

Siapa saja bisa punya masa lalu seperti itu
Ketika langkah-langkah kaki lenyap dari undakan
Ketika ombak demi ombak lautan tercipta ulang di mataku
Airmata jatuh ke tanah jadi semut
Tangan diangkat dan turun jadi laba-laba
Gunung-gunung yang kita daki sama jauhnya dengan bintang-bintang
Di mana bisa kutemukan bayang-bayang dirimu?
Lebih baik kuiris habis dirimu dari hatiku
Maka kuambil saputangan putih   dan sebuah cermin gemetar
Di Grand Canal    perahu-perahu setan tertambat tak terbilang jumlahnya
Kabut merambah
Setan-setan bangkit   wajah-wajah rapat berhimpit
Mereka memanggil namaku
Dan gaung-gaung menggetarkan kalung mutiaraku
Hijaunya rumput   adalah sabukmu terlilit di rambutku
Apakah takdirmu bersamaku
Aku telah pergi   dan kau tak lagi di sini
Menilik foto-foto ini   kulihat kau pun bersedih
Sementara aku   akan kumakan foto-foto itu supaya mereka turun ke perutku
Dan aku takkan lapar lagi
Aku takkan butuh orang lain lagi
Aku telah mencintaimu   seperti mencintai ubi
Gagal memperhatikan pengetahuan manusia tentang tanah
Cukup   saputangan kuyup dengan tangisan   cermin yang karatan
Tanpa mereka   aku akan mencinta kala suka   menangis kala suka
Dan aku tak peduli apa pendapat pembaca tentang sajak ini


HONG YING adalah penulis dari RRC yang terkenal dengan berbagai novel dan memoar, di antaranya Summer of Betrayal, Daughter of the River, K: the Art of Love, Peacock Cries, Lord of Shanghai, dan Death in Shanghai. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, telah pula diadaptasi menjadi serial film dan televisi.

Pendiri InterSastra, Eliza Vitri Handayani, bertemu Hong Ying ketika mereka berdua meluncurkan buku terbaru masing-masing di toko buku Bookworm, Beijing, September 2015. Puisi-puisi di atas diterjemahkan dari versi bahasa Inggris karya Mabel Lee, seorang penerjemah sastra Tiongkok yang juga menerjemahkan karya Gao Zingxian, peraih Anugerah Nobel Sastra 2000. Puisi-puisi di atas diterjemahkan dengan seizin Hong Ying dan Mabel Lee untuk koleksi #OleholehSastra.