Orang yang Dianggap Barang

Harriet Beecher Stowe

Terjemahan Istiani Prajoko

 

Gudang budak. Mungkin pembaca membayangkan sebuah tempat yang mengerikan. Mungkin pembaca mengira gudang itu penuh dengan segala yang menjijikkan dan memuakkan, semacam neraka—tak berbentuk, menyeramkan, remang penuh bayang. Tapi tidak. Di zaman ini, orang telah belajar seni berdosa dengan ahli dan indah, sehingga keadaannya tidak menyinggung mata dan perasaan masyarakat yang terhormat. Harta bergerak yang berupa manusia bernilai tinggi di pasar, oleh karena itu, para budak ini diberi makanan yang bergizi dan pakaian yang bersih, dipelihara dan dirawat, sehingga saat penjualan mereka kelihatan rapi, kuat, dan berseri-seri. Gudang budak di New Orleans merupakan rumah yang dari luar tidak banyak berbeda dari gudang lainnya, yang diurus dengan rajin. Setiap hari orang bisa melihat, di bawah atap pelindung sepanjang sisi rumah itu, deretan manusia laki-laki dan perempuan yang berdiri di sana dengan tertib, sebagai tanda adanya properti yang dijual di dalam gudang itu.

Kemudian calon pembeli akan dengan sopan dipersilakan untuk memanggil dan memeriksa mereka, dan akan menemukan banyak suami, istri, kakak, adik, ayah, ibu, dan anak-anak kecil, yang “dijual terpisah atau borongan sesuai keinginan pembeli.” Para makhluk hidup itu—yang pernah ditebus dengan darah dan derita oleh Putra Allah, kala bumi berguncang, bebatuan retak, dan makam terbuka—dapat dijual, disewakan, dihipotekkan, dipertukarkan dengan bahan makanan atau barang mentah, tergantung pada fase perdagangan atau keinginan pembeli.

Tom, Adolph, dan sekitar setengah lusin budak lainnya dari rumah tangga keluarga St. Clare diserahkan kepada kebaikan hati Tuan Skeggs, pemilik suatu depot di Jalan ... untuk dilelang pada hari berikutnya.

Tom membawa koper besar yang penuh pakaian, demikian juga kebanyakan budak lainnya. Mereka digiring malam itu ke dalam ruangan panjang, tempat budak-budak lelaki lainnya, dari berbagai usia, ukuran, dan nuansa kulit, dikumpulkan. Dari ruangan ini terdengar gelak tawa dan sorak gembira.  

“Ha, ha, bagus, bagus! Begitu, Bocah, teruskan!” kata Skeggs, pemilik depot. “Orang-orangku selalu gembira. Sambo, bagus!” katanya senang, kepada seorang budak kekar yang bermain sulap tapi tidak terlalu terampil, sesekali ditingkahi dengan teriakan yang dapat didengar Tom dari tempat duduknya.

Seperti yang bisa dibayangkan, Tom tidak merasa ingin bergabung dengan kelompok ini, dan oleh karena itu, ia menaruh kopernya sejauh mungkin dari kelompok yang gaduh itu, lalu duduk di atas koper itu dan menyandarkan wajahnya pada dinding.

Para pedagang komoditi manusia ini berusaha secara sistematis dan cermat untuk membangkitkan kegembiraan di antara para budak, sebagai sarana menenggelamkan renungan dan membuat mereka tidak merasakan kondisi mereka. Seluruh tujuan pelatihan yang diberikan kepada para negro, sejak saat dijual di pasar di bagian Utara hingga di tiba di Selatan, secara sistematis diarahkan untuk membuatnya menjadi mati rasa, tak dapat berpikir, dan brutal. Para pedagang budak partai besar mengumpulkan rombongannya di Virginia atau Kentucky, dan menampung mereka di tempat yang sehat dan nyaman—seringkali di kedai makan dan minum—agar menjadi gemuk. Di tempat itu mereka diberi makan setiap hari, dan, karena beberapa budak cenderung merasa merana, sebuah biola selalu dimainkan dalam ruangan itu, dan mereka diminta menari setiap hari. Budak yang menolak bergembira—karena masih memikirkan istri atau anak atau rumah, yang begitu berat membebani pikirannya—biasanya ditandai sebagai pemarah dan berbahaya, dan mereka dikenakan segala kekerasan yang dapat dipicu oleh niat jahat manusia yang tidak bertanggung jawab dan tidak berperasaan. Para budak senantiasa memaksa diri tampil sibuk, sigap, dan cerita, terutama di hadapan calon pembeli, dengan harapan agar mereka mendapat majikan yang baik, maupun karena cemas akan segala kekerasan yang akan dilakukan oleh mandor apabila mereka terbukti tidak laku dijual.

“Apa sedang dikerjakan budak ini di sini?” kata Sambo, mendekati Tom, setelah Skeggs meninggalkan ruangan. Sambo berkulit sangat gelap, berbadan gemuk dan besar; ia lincah, banyak bicara, suka usil dan menyeringai.

“Apa sedang kaulakukan di sini?” ulang Sambo sambil menyodok pinggang Tom dengan jenaka. “Bersemadi, heh?”

“Aku akan dijual di pelelangan besok,” kata Tom dengan tenang.

“Dijual di pelelangan... Hahaha. Bung, asyik, bukan? Kuharap aku juga akan dijual. Kukasih tahu, ya, aku pasti akan bikin mereka ketawa-ketawa. Tapi bagaimana bisa, seluruh teman-temanmu akan dijual bareng besok?” tanya Sambo, lalu menumpangkan tangan dengan seenaknya di pundak Adolph.

“Tolong, jangan ganggu aku,” kata Adolph, dengan galak ia bangkit dengan tatapan yang terang-terangan jijik.

“Hei, lihat ini. Ada satu budak putih, warnanya krem, berbau harum, lihat!” kata Sambo, sambil mendekati Adolph dan mengendus-endus. “Wah, dia akan dikasih kerja di toko tembakau. Mereka akan pelihara dia buat cium-cium aroma tembakau. Bah, dia akan bikin seluruh toko wangi semua, pasti begitu.”

“Jangan dekati aku, dengar?” kata Adolph dengan marah.

“Lho, gampang tersinggung orang ini, budak ini. Lihat kita sekarang!” ejek Sambo seraya menirukan tingkah laku Adolph. “Beginilah lagak dan kehormatan kita. Kita pernah tinggal pada keluarga yang baik, kayaknya.”

“Ya,” kata Adolph. “Aku punya majikan yang dapat beli kalian semua dengan sebuah truk tua.”

“Wah,” kata Sambo, “gagah sekali kita ini.”

“Majikanku dulu keluarga St. Clare,” kata Adolph dengan bangga.

“Wah, kamu milik mereka. Berani digantung nih, kalau mereka tidak beruntung punya budak seperti kamu. Aku rasa mereka jual kamu buat beli banyak poci teh retak dan sejenisnya,” kata Sambo dengan nada menantang, sambil menyeringai.

Adolph, yang marah karena ejekan ini, meloncat dengan beringas ke arah pengejeknya, mengumpat dan memukuli seluruh tubuh Sambo. Budak lainnya tertawa dan berteriak. Kegaduhan itu mengundang mandor ke pintu.

“Ada apa ini, Bocah? Tertib, tertib!” si mandor berkata, masuk dan mengayunkan cambuk besar.

Semua kabur ke berbagai arah, kecuali Sambo, yang menganggap bahwa mandor pasti mendukung dirinya sebagai pelawak resmi depot itu. Ia bergeming, menundukkan kepalanya dengan seringai kocak, seperti tiap kali sang majikan menggeledahnya.

“Wah, bukan kami, Tuan... Kami terus-terusan tertib... Mereka, para pendatang baru, mereka sangat bikin jengkel... Ganggu-ganggu kami terus-terusan.”

Mandor berpaling kepada Tom dan Adolph, dan tanpa banyak tanya mengayunkan beberapa tendangan dan tamparan, lalu memberikan perintah kepada semuanya untuk bersikap baik dan tidur, setelah itu ia meninggalkan ruangan.

Sementara adegan ini terjadi di kamar tidur laki-laki, pembaca mungkin ingin mengintip ke dalam ruangan yang disediakan untuk para budak wanita. Kita bisa melihat tubuh-tubuh yang tak terhitung jumlahnya berbaring dalam berbagai posisi, tubuh-tubuh yang beragam nuansa, dari warna batu bara hingga gading, dan berbagai usia, dari anak-anak hingga manula, terbaring tertidur. Ada seorang anak perempuan yang cantik dan cerdas, berusia sepuluh tahun, ibunya telah terjual kemarin. Malam ini anak itu menangis sendirian hingga terlelap ketika tak seorang pun memperhatikan dirinya. Ada wanita gelap yang sudah tua dan loyo, dengan lengan-lengan yang kurus dan jari-jari yang kering dan kasar akibat bekerja keras, sedang menunggu untuk dijual besok sebagai barang obralan, berapa pun harga yang dapat diperoleh darinya. Ada sekitar empat puluh hingga lima puluh perempuan lain, dengan kepala terbungkus kerudung selimut atau pakaian, berbaring telentang di sekitar mereka.

Namun, di suatu sudut, duduk agak terpisah dari lainnya, ada dua perempuan yang penampilannya lebih menarik ketimbang budak pada umumnya. Salah satunya adalah wanita separuh-hitam-separuh-putih berpakaian sopan yang berusia antara empat puluh dan lima puluh, dengan wajah yang lembut dan menyenangkan. Di kepalanya ia memakai turban yang mencuat tinggi terbuat dari saputangan Madras berwarna merah menyala dan sangat bermutu, pakaiannya melekat dengan sempurna dan terbuat dari bahan yang bagus. Di sampingnya, menempel erat pada tubuhnya, seorang gadis berusia lima belas tahun, putrinya. Gadis ini berdarah seperempat hitam, terlihat dari warna kulitnya yang lebih pucat, tetapi kemiripannya dengan ibunya sangat mencolok. Ia bermata lembut dan gelap, persis seperti ibunya, bulu matanya panjang dan rambut ikalnya berwarna cokelat indah. Ia pun berpakaian sangat rapi, dan kedua tangannya yang lembut putih menandakan ia sangat tak terbiasa dengan kerja kasar. Dua perempuan ini akan dijual besok dalam rombongan yang sama dengan para pelayan keluarga St. Clare. Pria pemilik kedua perempuan ini, yang akan mendapat kiriman uang hasil penjualan mereka berdua, adalah anggota jemaah gereja Kristen di New York—setelah kedua perempuan ini laku dilelang, ia akan menerima uangnya dan pergi ke gerejanya di New York untuk menerima sakramen dari Tuhannya, yang juga Tuhan kedua budaknya, dan setelah itu ia tidak akan lagi memikirkan mereka.

Kedua perempuan ini, yang bernama Susan dan Emmeline, sebelumnya adalah pelayan pribadi seorang wanita yang saleh dan ramah di New Orleans, yang telah melatih dan mendidik mereka untuk menjadi orang saleh. Mereka diajari membaca dan menulis, dan dibimbing dengan rajin mengenai kebenaran agama, dan mereka bahagia seperti yang dimungkinkan dalam situasi mereka. Namun, yang mengelola semua kekayaan wanita ini adalah anak lelaki satu-satunya. Gara-gara kecerobohan dan gaya hidup berfoya-foya, lelaki itu terlilit banyak utang, akhirnya mengalami kebangkrutan. Salah satu kreditornya yang terbesar adalah perusahaan terkenal B. & Co. di New York. Perusahaan itu mengirim surat kepada pengacara mereka di New Orleans, yang kemudian menyita harta lelaki itu (dua perempuan tadi dan para pekerja perkebunan merupakan bagian yang paling berharga) dan memberi kabar hasil penyitaan itu ke New York. B., sebagai seorang Kristen dan penduduk di wilayah yang bebas perbudakan, merasa tak enak dengan kasus itu. Ia  tidak suka memperdagangkan budak dan jiwa manusia, tentu tidak. Tetapi tiga puluh ribu dolar adalah jumlah yang terlalu besar untuk dikorbankan demi mempertahankan suatu prinsip. Maka, setelah mempertimbangkan masak-masak, dan meminta nasihat dari berbagai pihak yang ia tahu akan sependapat dengannya, B. menulis surat kepada pengacaranya untuk menjual hasil penyitaan itu dengan cara yang paling tepat dan mengirim keuntungannya.

Sehari setelah surat itu tiba di New Orleans, Susan dan Emmeline dikirim ke depot untuk menunggu pelelangan umum pada pagi berikutnya. Sementara mereka samar-samar terlihat disinari cahaya bulan yang menyelinap masuk melalui kisi-kisi jendela, kita bisa mendengarkan percakapan mereka. Mereka sedang menangis, tapi tanpa mengeluarkan suara sehingga orang lain tidak mendengarnya.

“Ibu, tumpangkan saja kepalamu di atas pangkuanku, supaya engkau dapat tidur sejenak,” kata Emmeline, berusaha tampil tenang.

“Aku tidak tega untuk tidur, Em. Aku tak dapat, ini malam terakhir kita bisa bersama.”

“Oh, Ibu, jangan berkata begitu. Mungkin kita akan terjual bersama... Siapa tahu?”

“Jika musibah ini menimpa orang lain, aku akan mengatakan demikian juga, Em,” kata Susan. “Tapi aku begitu takut akan kehilangan kau sehingga aku tidak melihat apa pun selain bahayanya.”

“Tapi, Ibu, mandor berkata kemungkinan besar kita akan laku bersama, dan dengan harga tinggi.”

Susan teringat tatapan dan kata-katasi mandor. Dengan hati yang sangat pedih, ia teringat bagaimana orang itu memandangi tangan Emmeline, membelai rambut ikalnya, dan menyatakan gadis itu dagangan kelas satu. Susan telah dilatih sebagai seorang Kristen, dibesarkan dengan kewajiban membaca Alkitab setiap hari, dan sangat cemas apabila anaknya dijual ke kehidupan yang sangat nista yang tentu juga dikhawatirkan oleh ibu mana pun. Sayangnya ia tidak punya pengharapan—tidak juga perlindungan.

“Ibu, menurutku kita dianggap kelas terbaik, Ibu bisa mendapat tempat sebagai koki dan aku sebagai pelayan kamar atau penjahit dalam suatu keluarga. Aku berani berharap kita akan mendapatkannya. Marilah kita tampil sebaik dan seceria mungkin, dan mengungkapkan apa saja kemampuan kita, dengan demikian mungkin keinginan kita akan terkabul,” kata Emmeline.

“Aku ingin kau menyisir rambutmu ke belakang dan mengikatnya erat-erat besok,” kata Susan.

“Untuk apa, Ibu? Aku tidak kelihatan cantik dengan sisiran seperti itu.”

“Ya, tapi kau akan laku lebih baik.”

“Kenapa begitu?”

“Keluarga terpandang akan lebih tertarik membelimu, jika mereka melihat kau tampak sederhana dan sopan, seolah-olah kau tidak berusaha tampak cantik. Aku lebih mengetahui kelakuan mereka daripada kau,”  kata Susan.

“Baiklah, Ibu, akan kulakukan.”

“Dan, Emmeline, jika kita terpaksa tidak saling bertemu lagi, setelah besok... jika aku dijual ke suatu perkebunan yang jauh dan kau ke suatu tempat lainnya... ingat-ingatlah selalu segala hal yang telah kaupelajari dan semua yang diajarkan oleh Nyonya kepadamu. Bawalah Alkitabmu dan buku kidungmu. Jika kau setia kepada Tuhan, Dia akan setia kepadamu.”

Demikianlah orang yang malang itu berbicara, tanpa harapan, karena Susan tahu bahwa besok setiap orang, betapa pun jahat dan brutalnya, betapa pun tak beriman dan tak berbelas kasihan, jika mempunyai uang untuk membelinya, orang itu bisa menjadi pemilik anak gadisnya, jiwa dan raga. Dan setelah itu, bagaimana anak itu akan setia kepada Tuhan? Ia memikirkan semua itu seraya merangkul anaknya, dan berandai-andai anaknya tidak cantik dan menarik. Hatinya seperti diiris-iris bila ingat betapa murni dan salehnya, betapa lebih baik cara anak itu dibesarkan ketimbang nasib para budak kebanyakan. Tetapi wanita itu tidak dapat melalukan apa-apa, kecuali berdoa. Banyak doa serupa telah dipanjatkan kepada Tuhan dari penjara budak yang dirancang dengan rapi dan baik itu—doa yang tidak pernah dilupakan Tuhan, sebagaimana akan dibuktikan suatu hari nanti, sebab tertulis Siapa yang menyebabkan mereka yang beriman kepada-Ku berdosa, lebih baik batu penggilingan dikalungkan di lehernya, dan dia tenggelam di laut yang dalam.

Sinar bulan yang lembut, tulus, dan tenang menyelinap masuk, menimpakan bayangan jeruji-jeruji jendela pada tubuh-tubuh yang tidur kelelahan itu. Ibu dan anak gadisnya itu bersama-sama menyanyikan sebuah lagu melankolis, yang lazim dinyanyikan sebagai himne pemakaman di antara para budak:

“O, di manakah Maria yang menangis?
O, di manakah Maria yang menangis?
Tiba di negeri Tuhan,
Ia meninggal dan pergi ke Surga;
Ia meninggal dan pergi ke Surga;
Tiba di negeri Tuhan.”

Pagi pun tiba, dan semua orang sudah bangun. Skeggs sibuk dan riang, karena banyak dagangan akan dikeluarkan untuk dilelang. Setiap toilet diperiksa sekilas; instruksi disampaikan kepada setiap budak untuk berhias secantik dan setampan mungkin dan tampil bersemangat. Kemudian semua budak diatur membentuk lingkaran untuk pemeriksaan terakhir, sebelum mereka digiring ke pasar budak.

Skeggs, dengan topi palmetto di kepala dan cerutu di mulut, berjalan berkeliling untuk memeriksa barang dagangannya terakhir kalinya.

“Ada apa ini?” ia berkata, melangkah ke depan Susan dan Emmeline. “Mana rambut ikalmu, Bocah?”

Gadis itu memandang dengan malu-malu ke arah ibunya, yang dengan ketangkasan dan kehalusan yang lazim di lingkungan kelasnya, menjawab, “Tadi malam saya meminta dia merapikan rambutnya agar keritingnya tidak bertebaran; dia kelihatan lebih sopan dengan sisiran begitu.”

“Persetan!” kata pria itu, dan berpaling ke Emmeline. “Pergi dan bikin ikal rambutmu sehingga kelihatan cantik,” katanya, sambil menyabetkan rotan yang dipegangnya. “Dan cepat kembali.”

“Kamu pergilah dan bantu dia,” dia menambahkan kepada Susan. “Dengan rambut ikalnya gadis itu bisa laku ratusan dolar lebih mahal.”

Di bawah kubah megah berkumpul manusia dari berbagai bangsa, bergerak ke sana kemari, di atas lantai marmer. Pada setiap sisi tempat yang berbentuk lingkaran itu terdapat tribun-tribun kecil, atau meja, yang digunakan oleh para juru bicara dan juru lelang. Dua dari tribun tersebut, yang terletak pada sisi yang berseberangan, ditempati oleh orang-orang berbakat dan cerdas, yang bercakap-cakap dalam bahasa Inggris dan Prancis bergantian, mendesak berbagai connoiseurs untuk menawar dagangan mereka. Tempat ketiga, pada sisi lain, belum ditempati, telah dikelilingi oleh sekelompok orang yang menunggu saat penjualan dimulai. Di sini kita mengenali para pelayan keluarga St. Clare—Tom, Adolph, dan lainnya. Ada juga Susan dan Emmeline yang sedang menunggu giliran mereka dengan wajah cemas dan murung. Berbagai penonton, yang berniat atau tidak berniat membeli, berkerumun di sekitar para budak, menyentuh, memeriksa, dan mengomentari wajah atau fitur mereka dengan bebasnya sama seperti sekelompok joki membahas keunggulan seekor kuda.

“Halo, Alf. Apa yang membawamu ke sini?” tanya seorang pesolek muda sambil menepuk pundak seorang pemuda yang berpakaian rapi perlente, yang sedang memeriksa Adolph dengan kacamata.

“Aku sedang mencari seorang pelayan pribadi, dan kudengar budak St. Clare dijual. Kurasa sekadar melihat-lihat—”

“Aku sih tidak sudi membeli orang-orang St. Clare. Budak-budak manja, semuanya. Kurang ajar seperti setan,” kata si pesolek.

“Jangan khawatir,” kata kawannya. “Jika aku mendapatkan mereka, aku akan segera menghapus kemanjaan mereka. Mereka akan segera tahu kini mereka punya majikan baru yang harus dipatuhi. Lihat saja, aku akan beli budak itu. Aku suka bentuk tubuhnya.”

Tom berdiri dengan sendu mengamati sekumpulan wajah-wajah yang berkerumun mengelilingi dirinya, mencari salah satu di antara mereka yang diharapkannya akan menjadi tuan barunya. Dan jika anda berada dalam kondisi yang mengharuskan Anda memilih salah satu di antara dua ratus orang yang akan menjadi pemilik dan penentu mutlak nasib Anda, mungkin Anda akan menyadari, seperti yang dialami Tom, betapa sedikitnya orang kepada siapa Anda merasa nyaman menyerahkan diri. Tom melihat banyak laki-laki—bertubuh besar, kekar, kasar; kecil, kerempeng, bengek; dan berbagai jenis orang yang tampak bodoh, yang memungut sesama manusia bagai orang memungut serpihan kayu, melemparkannya ke api atau keranjang tanpa peduli, sekehendak hati mereka. Tom tidak melihat satu pun calon majikan yang mengingatkannya akan St. Clare.

Beberapa saat sebelum penjualan dimulai, seorang lelaki berotot, pendek, gempal, yang mengenakan kemeja kotak-kotak yang terbuka lebar di bagian dada dan celana panjang yang lusuh berdebu dan usang, merangsek di antara kerumunan, begitu bersemangat ia terjun mendekati sekelompok budak dan memeriksa mereka secara sistematis. Saat Tom melihat orang tersebut mendekat, serta-merta ia merasakan gejolak ketakutan, yang semakin meningkat seraya orang itu semakin dekat. Meskipun badannya tidak tinggi, jelas sekali orang itu sangat kuat. Kepalanya bulat plontos bagai peluru, matanya lebar berwarna abu-abu cerah, alis matanya miring berwarna pasir, dan rambutnya kaku dan gosong terbakar matahari—terpaksa diakui semua unsur tersebut membuat orang itu tampak tidak tampan. Mulutnya yang lebar dan kasar disumpali dengan tembakau, cairannya berkali-kali ia ludahkan sekuat tenaga dengan suara keras; kedua tangannya sangat besar, berbulu, terbakar matahari, pengkor, dan sangat dekil; semua jarinya berkuku panjang kotor menjijikkan. Orang itu maju mendekat seenak hatinya untuk memeriksa para budak. Ia menarik rahang Tom, lalu membuka mulutnya untuk memeriksa giginya, serta menyuruhnya menyingsingkan lengan baju untuk memperlihatkan ototnya. Ia memerintahkan Tom berputar dan melompat-lompat, untuk menunjukkan kegesitannya.

“Di mana kamu dibesarkan?” dia bertanya penuh selidik.

“Di Kintuck, Tuan,” kata Tom, melihat sekeliling, seolah mencari penyelamat.

“Kerja apa kau selama ini?”

“Merawat ladang majikan,” kata Tom.

“Masuk akal,” kata orang tadi, sekilas, sambil lalu. Ia berhenti sejenak di depan Adolph, kemudian meludahkan cairan tembakau pada sepatu bot Adolph yang telah disemir mengilat. Kemudian, sambil mendengus penuh hinaan, orang itu berlalu. Ia berhenti di depan Susan dan Emmeline. Diulurkannya tangannya yang berat dan kotor, dan ditariknya gadis itu ke arah dirinya. Ia meraba leher dan dadanya, meremas lengannya, mengamati giginya, dan kemudian mendorong gadis itu kembali kepada ibunya—wajah sabarnya memancarkan penderitaan yang dialaminya setiap kali si orang asing yang mengerikan itu bergerak.

Gadis itu ketakutan dan mulai menangis.

“Hentikan, Bodoh!” kata penjual, “tidak boleh cengeng di sini, penjualan akan dimulai.” Dan betul saja, penjualan dimulai.

Adolph terjual dengan harga yang tinggi, kepada pria muda yang sebelumnya telah menyatakan keinginannya untuk membeli budak itu. Para pembantu keluarga St. Clare lekas dibeli oleh berbagai peserta lelang.

“Sekarang, berdirilah kamu, Bocah! Kau dengar?” kata pelelang kepada Tom.

Tom melangkah ke atas bangku, memandang sekeliling dengan cemas. Semua orang tampak berpadu dalam keriuhan yang tak jelas—lengkingan penjual yang meneriakkan kualifikasi Tom dalam bahasa Prancis dan Inggris disambut secepat kilat oleh penawaran dalam bahasa Prancis dan Inggris. Tak lama kemudian palu pun diketuk, pertanda harga disepakati, dan terdengarlah deringan nyaring pada saat penyebutan kata “dolar”, ketika pelelang mengumumkan harganya. Tom telah terjual. Ia punya majikan baru.

Tom didorong dari bangku. Orang bertubuh pendek dan berkepala plontos tadi menarik pundaknya dengan kasar, mendorongnya ke sebelah, dan berkata dengan suara parau, “Berdirilah di sana, kau!”

Tom hampir tidak menyadari apa pun, tetapi penawaran terus berlangsung—riuh, gegap gempita, dalam bahasa Inggris maupun Prancis. Kembali palu diayunkan—Susan terjual. Perempuan itu turun dari bangku, berhenti, menengok ke belakang dengan wajah muram. Anak perempuannya mengulurkan tangan ke arahnya. Susan memandang dengan memelas kepada wajah orang yang membeli dirinya—seorang laki-laki berusia setengah abad yang berwajah ramah.

“Oh, Tuan, mohon belilah anak saya.”

“Aku ingin membelinya, tapi sayang aku tak mampu membayarnya,” kata pria itu, memandang dengan penuh perhatian, ketika Emmeline menaiki bangku dan memandang sekelilingnya dengan sorot mata malu-malu dan ketakutan.

Darah merona menyakitkan pada pipinya yang pucat, matanya terasa terbakar, dan ibunya merintih saat melihat anaknya tampak lebih cantik daripada sebelumnya. Pelelang melihat mutu dagangannya dan berteriak dengan keras dalam bahasa Prancis dan Inggris. Dengan cepat penawaran naik semakin tinggi dan tinggi.

“Akan kulakukan sebisaku,” kata pria berwajah ramah tadi, merangsek masuk dan ikut menawar. Dalam beberapa saat penawaran telah berpacu melampaui kemampuan dompetnya. Pria itu terdiam. Pelelang semakin bersemangat. Namun, penawaran perlahan-perlahan mereda. Akhirnya tinggal seorang aristokrat tua dan si pria berkepala plontos yang saling menawar dengan sengit. Si aristokrat itu menawar beberapa kali, penuh hina mengungguli lawannya, tapi si kepala plontos melampaui dirinya baik dari segi kegigihan dan ketebalan dompet yang tersembunyi. Persaingan berlanjut hanya sesaat. Palu dipukulkan, si pendek berkepala plontos mendapatkan gadis itu, jiwa dan raga, jika Tuhan tidak menolongnya.

Majikannya adalah Tuan Legree, yang memiliki perkebunan kapas di Sungai Merah, cabang Sungai Mississppi. Emmeline didorong menuju kelompok yang sama dengan Tom dan dua pria lain. Gadis itu terus menangis tersedu.

Pria berwajah ramah tadi merasa iba, tapi, bagaimana lagi, hal seperti itu terjadi setiap hari. Orang melihat banyak ibu dan anak perempuan menangis pada tiap pelelangan, selalu seperti itu. Tak terelakkan. Pria itu pun berlalu dengan perolehannya, menjauh dari Emmeline.

 

Di geladak bawah sebuah kapal kecil dan bobrok di Sungai Merah, Tom duduk, dengan pergelangan tangan dan kaki dirantai, dan hatinya dibelenggu oleh beban yang lebih berat daripada rantai. Segalanya sudah lenyap dari langit hatinya, bulan dan bintang, semuanya berselang di hadapannya, seperti halnya pohon-pohon dan tepian sungai berlalu dan tidak akan kembali lagi. Rumah di Kentucky, dengan istri dan anak-anaknya, serta majikan mereka yang baik hati; rumah St. Clare, dengan segala keindahan dan kemegahannya; St. Clare yang angkuh, periang, tampan, dan kelihatannya tidak pedulian tetapi sebenarnya selalu baik hati; jam-jam santai dan waktu luang yang menyenangkan—semuanya lenyap. Adakah yang tersisa?

Itulah salah satu kenyataan terpahit perbudakan, bahwa si budak, yang mudah disukai dan mudah menyesuaikan diri, setelah mengenal, dalam keluarga yang baik dan terhormat, cita rasa dan perasaan yang menyenangkan yang menjadi suasana tempat-tempat semacam itu, bukan mustahil ia kemudian akan diperbudak di tempat-tempat yang paling kejam dan paling brutal. Sama saja dengan kursi atau meja yang pernah ditempatkan di rumah minum yang indah dan megah, kemudian, karena sudah kusam dan rusak, dipindahkan ke kedai minum yang paling jorok, atau ke rumah pelacuran kelas rendahan. Meja dan kursi tidak punya perasaan, tetapi manusia punya. Meskipun menurut hukum ia ‘dianggap, disebut, dan diputuskan secara legal sebagai harta bergerak privat’, jiwanya tidak dapat dibelenggu dan dirampas dari dunia kecilnya yang pribadi, dunia yang dibentuk oleh kenangan, harapan, cinta, ketakutan, dan hasrat.

Simon Legree, pemilik Tom, membeli budak dari beberapa tempat di New Orleans sampai berjumlah delapan orang, lalu menggiring mereka, dengan diborgol sepasang-sepasang, ke kapal uap Pirate yang bersandar di dermaga, siap mengarungi Sungai Merah.

Setelah mereka terkumpul di geladak dan kapal sudah meluncur, dengan sikap tangkas yang menjadi ciri khasnya, ia memeriksa mereka. Berhenti di depan Tom yang berdandan dengan pakaian terbaiknya—linen yang dikanji dan sepatu mengilat—Legree berkata singkat: “Berdiri!”

Tom berdiri.

“Copot dasimu!”

Tom mengalami kesulitan karena tangannya dibelenggu, maka Legree membantunya dengan cara merenggut barang itu dengan kasar dari kepala Tom, lalu menjejalkannya ke sakunya sendiri.

Legree kemudian mengalihkan perhatian ke koper Tom yang sebelum ini sudah digeledahnya, lantas mengeluarkan celana panjang tua dan mantel usang yang biasa dipakai Tom untuk bekerja di kandang. Setelah itu Legree melepaskan borgol dari pergelangan tangan Tom dan menunjuk ke sela-sela tumpukan peti.

“Pergi ke sana, dan pakai ini.”

Tom patuh, dan beberapa menit kemudian kembali.

“Lepaskan sepatumu,” kata Legree.

Tom melaksanakan perintah itu.

“Nih,” kata Legree, sambil melemparkan sepatu yang kasar buatannya tapi kuat, yang biasa dipakai para budak, “pakai ini.”

Meskipun berganti pakaian dengan cepat, Tom tidak lupa memindahkan Kitab Suci yang disayanginya ke saku. Untung ia melakukannya, sebab Legree, setelah kembali memborgolnya, mulai memeriksa isi saku pakaian bagus yang sudah ditanggalkan Tom. Legree menemukan saputangan sutra, lalu memindahkannya ke sakunya sendiri. Beberapa benda kecil yang tidak berharga, tapi sangat disayangi Tom… Legree memeriksa barang-barang itu sambil mengernyit tidak senang, lalu dilemparkannya ke sungai.

Buku lagu-lagu pujian Methodis milik Tom, yang karena tergesa-gesa lupa ia amankan, diambil Legree dan dibalik-baliknya.

“Hmm, orang saleh, rupanya. Siapa namamu? Kau beragama Kristen, ya?”

“Benar, Tuan,” kata Tom tegas.

“Aku akan segera menyingkirkan agamamu. Aku tidak mau ada budak berteriak-teriak, berdoa, bernyanyi-nyanyi di tempatku. Ingat itu!” kata Legree, matanya yang abu-abu melotot tajam ke arah Tom. “Akulah gerejamu sekarang. Mengerti? Kau harus mematuhi semua kata-kataku.”

Orang berkulit hitam yang membisu itu menjawab dalam hati, Tidak! Dan seolah-olah diulangi oleh suara yang pembicaranya tidak tampak, terdengar kata-kata dari nubuat nabi-nabi: Janganlah takut, sebab Aku telah menebusmu. Aku telah memanggilmu dengan namamu. Engkau milik-Ku.

Tetapi Legree tidak mendengar suara itu—mustahil terdengar olehnya. Ia hanya mendelik sekilas ke wajah Tom yang menunduk, lalu ia berjalan menjauh. Diangkutnya koper Tom yang penuh berisi pakaian necis ke geladak belakang, dan barang itu segera dikerumuni oleh berbagai awak kapal. Diiringi tawa-tawa yang meledek budak yang berusaha menjadi pria terhormat, benda-benda itu segera dijual satu per satu, dan koper yang kosong itu pun akhirnya ikut dilelang. Sungguh lucu, pikir mereka semua, terutama melihat cara Tom memandangi barang-barangnya yang berpindah tangan ke sana dan ke sini. Dan lelang koper itu menjadi puncak kelucuan, banyak celoteh kocak terlontar.

Setelah kejadian kecil itu usai, Legree kembali menghampiri hartanya.

“Nah, Tom, aku sudah membebaskanmu dari beban ekstramu. Jaga pakaianmu itu dengan sangat hati-hati. Masih lama sebelum kau akan diberi yang lain. Aku perintahkan budak-budakku agar sangat hati-hati. Satu pakaian harus dapat dipakai selama setahun di tempatku.”

Simon kemudian berjalan ke tempat Emmeline duduk, dirantai dengan seorang perempuan lain.

“Nah, Bocah,” katanya sambil mencolek dagu perempuan itu dengan lembut, “semangat, ya.”

Sorot mata cemas, takut, dan jijik yang terpancar tanpa sadar dari mata gadis itu tidak luput dari pengamatan Legree. Lelaki itu mengernyit tidak senang.

“Jangan main-main ya! Kau harus memasang wajah manis kalau aku sedang bicara denganmu. Dengar? Dan kau, orang tua brengsek,” kata Simon sambil menendang wanita mulatto yang dirantai dengan Emmeline, “jangan memandangku dengan wajah seperti itu! Kau harus kelihatan gembira, tahu?”

“Hei, dengarkan semuanya!” katanya sambil mundur satu-dua langkah, “Lihat aku… Lihat aku… Pandang aku baik-baik… Sekarang!” katanya sambil menghentak-hentakkan kakinya pada setiap jeda.

Seakan-akan terpesona, semua mata sekarang ditujukan ke mata Legree yang melotot.

“Nah,” katanya lagi, sambil mengepalkan tangannya yang besar dan berat hingga menyerupai palu godam pandai besi, “lihat tinjuku ini? Bandingkan!” Ia mendekatkan kepalan tangannya ke tangan Tom. “Lihat tulang-tulang ini. Kuberi tahu, ya, tinjuku ini telah jadi sekeras besi berkat banyak memukul budak. Aku belum pernah ketemu budak yang tak dapat kubikin pingsan dengan satu pukulan,” lanjutnya seraya menempelkan tinjunya begitu dekat ke wajah Tom sehingga Tom mengejapkan mata dan mundur. “Aku tidak punya mandor satu pun. Aku sendiri yang jadi mandor di tempatku, dan harap tahu saja, semua kuawasi. Kalian semua harus patuh pada peraturan. Harus cekatan, perintah harus langsung dikerjakan begitu aku selesai bicara. Kalian tidak akan menemukan setitik pun sisi lembut dalam diriku. Jadi, mulai sekarang, jaga sikap kalian, sebab aku tidak akan berbelas kasihan.”

Kedua perempuan tadi menahan napas, dan semua budak duduk sambil menundukkan wajah dengan sedih. Legree berbalik badan, lalu berjalan ke bar untuk minum-minum.

“Begitulah cara saya berurusan dengan budak,” katanya kepada seorang pria berpakaian necis yang berdiri di dekatnya selama ia berbicara tadi. “Sudah jadi sistem saya untuk mulai dengan keras… Biar mereka tahu apa yang akan dihadapi.”

“Oh, begitu ya?” kata orang asing itu sambil memandang Legree dengan keingintahuan seorang naturalis yang sedang mempelajari spesimen langka.

“Ya memang begitu. Saya bukan pemilik perkebunan yang bertingkah seperti tuan-tuan terhormat itu, yang tangannya bersih terawat, suka bermalas-malasan, dan sering ditipu mandor culas. Coba pegang buku jari saya, coba lihat tinju saya. Harap tahu saja, Tuan, daging yang menempel di situ sudah sekeras batu, karena saya suka berlatih dengan budak… Coba rasakan.”

Orang asing itu memenuhi permintaan Legree dan berkata, “Cukup keras, dan saya rasa,” ia menambahkan, “banyak berlatih membuat hati Tuan sama kerasnya.”

“Yah, boleh dibilang begitu,” kata Legree sambil terkekeh. “Saya rasa, sisi lembut saya memang tidak ada. Saya beri tahu ya, tak seorang pun dapat membujuk saya. Budak-budak itu tidak pernah melunakkan hati saya, entah dengan jerit, tangis, atau dengan bujuk rayu… Itu fakta.”

“Tuan punya budak-budak bagus di situ.”

“Betul,” kata Legree. “Itu ada budak bernama Tom, kata orang dia istimewa. Saya bayar mahal untuk membelinya, rencananya saya akan suruh dia jadi pengawas dan menangani budak lain. Terlepas dari informasi bahwa dia sudah terbiasa mendapat perlakuan yang tidak seharusnya diterima budak, dia akan kerja bagus. Perempuan tua yang itu saya dapat murah. Saya rasa dia sakit-sakitan, tapi akan saya manfaatkan dia untuk apa saja sebisanya, mungkin dia bisa bertahan satu atau dua tahun. Bukan urusan saya menyelamatkan budak. Pakai sampai rusak, lalu beli lagi, itu cara saya… Tidak banyak repot, dan saya yakin pada akhirnya begitu lebih murah.” Legree meneguk minuman di gelasnya.

“Dan berapa lama biasanya mereka bertahan?”

“Yah, entahlah, tergantung keadaan mereka. Orang-orang yang kuat bisa sampai enam atau tujuh tahun, yang lemah bisa dipakai dua atau tiga tahun. Dulu, waktu saya baru memulai bisnis, saya banyak direpotkan oleh mereka, mencoba membuat mereka bertahan lama… mengobati mereka kala mereka sakit, memberi pakaian dan selimut dan apa saja supaya mereka merasa layak dan nyaman. Percuma, tidak ada gunanya. Saya kehilangan banyak uang dan sungguh kerepotan. Sekarang, Tuan lihat sendiri, saya suruh mereka bekerja terus—sakit atau sehat. Kalau ada budak yang mati, saya beli lagi, dan ternyata itu lebih murah dan lebih mudah, dari segala sisi.”

Orang asing itu berbalik, lalu duduk di sebelah seorang pria muda yang mendengarkan percakapan tersebut sambil menyembunyikan perasaan tidak senang.

“Orang itu tidak mewakili pemilik perkebunan di daerah Selatan,” kata lelaki yang pertama.

“Semoga tidak,” sahut si pria muda dengan tegas.

“Dia orang yang keji, bermartabat rendah, dan brutal,” sahut lelaki yang pertama.

“Dan sayangnya undang-undangmu mengizinkannya menguasai sejumlah manusia lain, dan mereka mesti tunduk pada kemauannya yang tak dapat dibantah, tanpa perlindungan sedikit pun. Dan Anda tidak dapat mengatakan bahwa orang semacam dia tidak banyak.”

“Yah,” kata lelaki yang pertama tadi, “banyak juga pengusaha perkebunan yang penuh pengertian dan berperikemanusiaan.”

“Anda benar,” kata si pria muda. “Namun, menurut pendapat saya, Anda, orang-orang yang berperikemanusiaan, yang bertanggung jawab atas semua kekejaman dan pelecehan yang dialami budak-budak malang tersebut, sebab, jika bukan karena pengaruh dan persetujuan yang kalian berikan, keseluruhan sistem ini tidak akan bertahan barang satu jam saja. Seandainya tidak ada pengusaha perkebunan, kecuali orang semacam dia,” katanya sambil menunjuk Legree yang berdiri membelakangi mereka, “seluruh sistem ini akan tumbang. Sikap Anda yang terhormat dan berperikemanusiaan itulah yang mengizinkan dan melindungi kebrutalannya.”

“Agaknya Anda memandang tinggi keramahan saya,” kata lelaki pertama tadi, yang merupakan pengusaha perkebunan, sambil tersenyum. “Tapi kusarankan Anda jangan bicara terlalu keras, mengingat banyak orang di kapal ini yang mungkin pendapatnya tidak terlalu toleran seperti saya. Sebaiknya Anda menunggu sampai kita tiba di perkebunanku, di sana Anda boleh mengritik kami semua dengan santai.”

Wajah pria muda itu merona, lalu ia tersenyum. Mereka berdua segera sibuk bermain backgammon.

Sementara itu, percakapan lain berlangsung di geladak bawah kapal, antara Emmeline dan wanita mulatto yang dirantai bersamanya. Sudah sewajarnya bila mereka saling menceritakan sejarah hidup masing-masing.

“Kau dulu milik siapa?” tanya Emmeline.

“Majikanku dulu bernama Tuan Ellis… tinggal di Levee Street. Barangkali kau pernah melihat rumahnya.”

“Apakah dia bersikap baik kepadamu?” tanya Emmeline.

“Hampir selalu, sampai dia jatuh sakit. Dia sakit-sakitan lebih dari enam bulan, dan berubah gelisah. Kayaknya dia tidak ingin orang-orang beristirahat, siang atau malam, dan ia jadi begitu cerewet, sampai tidak ada orang yang dapat bikin dia senang. Kayaknya dia tambah pemarah setiap harinya. Suruh aku bangun terus sampai aku kehabisan tenaga dan tak dapat berjaga lagi. Dan karena aku ketiduran, suatu malam, ya Tuhan, dia omong sangat kasar kepadaku, dan bilang mau jual aku ke tuan yang paling galak yang dia bisa temukan. Padahal dia pernah janji mau kasih aku kemerdekaan sewaktu dia meninggal.”

“Apa kau punya teman?” tanya Emmeline.

“Ya, suamiku… Dia pandai besi. Tuan seringnya sewakan dia. Mereka jemput aku cepat sekali, sampai aku tidak sempat ketemu suamiku, padahal aku punya empat orang anak. Ya Tuhan…” kata wanita itu sambil menutupi wajahnya.

Reaksi yang wajar apabila kita mendengar cerita duka untuk mencari kata-kata yang manis untuk menghibur. Emmeline ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak menemukan kata-kata yang layak. Apa yang harus dikatakannya? Seperti ada kesepakatan, mereka berdua menghindari menyebut-nyebut lelaki menakutkan yang sekarang menjadi pemilik mereka.

Memang benar, iman membawa kenyamanan bahkan pada saat-saat yang paling gelap. Wanita mulatto itu umat gereja Methodis dan, meskipun tidak terpelajar, ia saleh dan tulus. Emmeline dididik menjadi terpelajar, diajari membaca dan menulis, dan dengan rajin diberi pelajaran mengenai Kitab Suci oleh nyonyanya yang taat beragama dan saleh. Namun, iman siapa yang tak mendapat cobaan, setelah menemukan diri mereka seolah-olah diabaikan Tuhan dan diserahkan kepada kekejaman yang tidak kenal ampun? Sampai kapan mereka akan menderita sebelum iman mereka goyah—mereka yang rentan dan malang, yang pengetahuannya belumlah luas dan usianya masih rawan?

Kapal itu terus melaju… dibebani beratnya kesedihan... mengarungi arus deras yang merah dan berlumpur, menyelusuri sungai yang penuh lekuk-liku dan tikungan tajam. Dan berpasang-pasang mata murung menatap dengan cemas ke tepian sungai yang curam dan bertanah liat, seraya mereka terus meluncur dalam suasana yang kering dan mencekam.


 Francis Holl, 1853

Francis Holl, 1853

HARRIET BEECHER STOWE (1811-96) adalah penulis dari Amerika Serikat. Ia menulis novel, memoar, serta surat dan artikel. Novelnya yang paling terkenal adalah Uncle Tom's Cabin yang menyuarakan pedihnya kehidupan orang kulit hitam dalam perbudakan. Novel tersebut luar biasa populer dan memulai banyak perdebatan tentang perbudakan. Di bagian Selatan, novel itu ramai dikecam dan dibredel. Ia pun menginspirasi banyak novel balasan yang hendak menggambarkan kehidupan budak dengan lebih positif. Stowe sendiri banyak dikirimi surat-surat ancaman. Namun, pengaruh novel itu dalam mengubah pandangan masyarakat Amerika tentang perbudakan amat besar. Kini novel itu telah diangkat ke panggung dan layar lebar, serta diterjemahkan ke setidaknya 20 bahasa. Sampai saat ini novel itu masih terus banyak dibaca dan diapresiasi.

Nukilan di atas, bab 30 dan 31 dari novel Uncle Tom's Cabin, diterjemahkan oleh Istiani Prajoko, berdasarkan terjemahan novel tersebut yang digarapnya untuk penerbit Serambi. Terjemahan nukilan di atas diedit kembali oleh redaksi InterSastra. Nukilan di atas kami beri judul berdasarkan subjudul yang dulu dipilih Stowe untuk novelnya: "The Man that was A Thing". Kami memilih nukilan tersebut untuk serial Defiant Voices sebab saat ini masih terdapat praktik yang memperbudak manusia, misalnya sebagai pekerja seks paksaan, dan nukilan di atas memberi pembaca cicipan seperti apa rasanya apabila manusia diperlakukan bagai barang dagangan semata. Serial Defiant Voices diterbitkan untuk melawan pemberangusan buku serta pengekangan kebebasan berekspresi di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut, mari tengok laman ini.

#Defiant_Voices      #SastraBerani      #SastraTerlarang