Hatcha-Bu

Hamid Ismailov

Hatcha-Bu, yang dikenal pada masa mudanya dengan nama Hadidja, terbangun pada tengah malam buta karena sakit tak terperi di betisnya, atau karena mimpi buruk yang disebabkan oleh apa lagi selain sakit tak terperi itu. Tidurnya sungguh terpatah-patah, dan sejak fajar menyembul ia duduk dengan punggung terbungkus selimut, membaca Sufi Allahyar, bukannya salat subuh atau berdoa.

Jiwamu penuh dosa berkobar bagai api, Jiwamu penuh dosa tumbuh dan tumbuh setinggi langit, Aku tak mengerti, Wahai makhluk tak berdaya, Jiwa macam apa yang kaukandung, tubuh macam apa yang kauhuni, orang macam apa dirimu ini. Kau monster, kau pengemis, Dibanding dosa-dosamu, gunung seolah sebutir pasir. Apa kau tak berharga? Wajahmu keras, Lidahmu pahit, Hatimu batu. Baris-baris puisi ini bercampur dengan mimpinya yang masam. Sesekali Hatcha-bu mencoba memaknai mimpi-mimpinya, tetapi perasaan dan hatinya justru semakin mendung. Andai saja sakit ini mau berhenti menggerogoti kakinya yang hampir lumpuh.

Di bawah lampu redup, cucu-cucu Hatcha-bu tidur melingkar di bawah selimut kotor. Hatcha-bu mencium bau campuran kentut dan kencing yang menusuk. Pasti Qozi mengompol lagi, tebak Hatcha-bu.

Tak sanggup menahan rasa sakit yang terus-menerus mengimpitnya, juga rasa sesak di hatinya, Hatcha-bu berteriak, “Oi, anak-anak tak berguna! Bangun! Mau terus tidur berkubang kotoran sendiri seperti babi? Pekarangan depan kotor, sana sapu! Hei, Zumrad, kalau kau menikah kau pasti sudah punya anak sekarang, tapi kau tetap tak bisa mendisiplinkan adik-adikmu. Bangun, anak babi! Lihat wajahmu yang kotor itu, ayo mandi! Malas betul jadi anak perempuan! Kamu juga, Oftob, kamu tuli ya?” Hatcha-bu terus saja berteriak. “Sudah lama tak dijewer kalian semua! Lihat tuh adikmu, dia ngompol lagi! Taburkan abu di kasurnya sebelum bau tengik meresap. Jemur selimutnya! Kalian bikin kasurku busuk! Ayo, jangan malas seperti ayah kalian!”

Setelah puas membangunkan setan-setan kecil itu, Hatcha-bu bangkit, mendesah dan menggeram, mengambil sekendi air lalu tertatih-tatih ke luar.

Pasti cuaca hari ini bagus, pikirnya sendiri. Tak satu pun awan terlihat di langit, dan sinar matahari terpencar seperti ngilu yang memudar di kakinya. Mungkin kulupakan saja kendi air ini dan mandi di sungai, pikir Hatcha-bu. Lalu ia berkata sendiri, “Mau kamu ambil risiko tenggelam, nenek konyol?”

Semenit kemudian, suara Qozi cilik yang melengking merampas kedamaiannya: “Nenek! Nenek, lihat! Kakak-kakak gangguin aku!”

“Persetan!” maki Hatcha-bu.

Qozi menjerit ketakutan.

“Heh, anak-anak jahat, kenapa kalian selalu ganggu Qozi? Enggak ada kerjaan ya selain ganggu anak ingusan tolol ini, dasar anak-anak berandal!” teriak Hatcha-bu. “Kamu juga, dasar anak cengeng, enggak bisa kamu bela diri?”

Seraya berjalan ke kamar kecil, Hatcha-bu mengenang mimpinya: almarhum suaminya—In’om Hodja—mengikat lengan dan tungkainya seperti anak sapi hendak disembelih, dan menggotongnya ke tepi Sungai Zah-arik. "Aku akan melemparkanmu ke sungai," kata suaminya, "dengan begini kakimu takkan sakit lagi."

Namun, suaminya tidak melemparkannya, hanya meninggalkannya di tepi sungai. Bila Hatcha-bu beringsut sedikit saja, ia akan tercebur dan hanyut. Maka ia mematung dan melihat bayangan Oftob dan Zumrad di air. “Apa lihat-lihat? Kenapa kalian tidak bebaskan Nenek, anak-anak kutuan!” hardiknya.

“Buat apa?" balas salah satu, entah Oftob atau Zumrad, "Namaku saja Nenek tak tahu. Persetan!” Mereka menghilang ke dalam air. Setelah itu, Hatcha-bu terbangun bersimbah keringat dingin, ketakutan setengah mati.

“Persetan!” Hatcha-bu mengulangi dalam nada suara yang sama. “Dasar nenek konyol, di WC sekalipun kamu masih saja mikirin mimpi." Setelah keluar, Hatcha-bu menatap kebun sayurnya. Di antara pohon tomat, ia melihat gulma tumbuh, lalu berteriak ke cucu-cucunya dengan wajah seseram halilintar: “Zumrad! Oftob! Anak bau tengik! Lihat tuh apa yang tumbuh di kebun! Rumput, gulma di mana-mana!”

Cucu-cucunya cepat-cepat berlari ke kebun sayur dan mencabuti rumput-rumput yang tumbuh.

“Cabut sampai habis! Kalau ada yang jatuh, mereka bakal tumbuh lagi!” Hatcha-bu memetik sebatang kemangi, diselipkannya ke belakang telinganya, dan bergegas ke dapur.

Setengah jam kemudian, anak-anak selesai mencabuti hama, lalu anak-anak perempuan mengukus roti naan. Salah seorang menghangatkan tandir, oven tanah liat, seorang yang lain menggulung bola tepung, dan seorang lagi bersama Hatcha-bu menggiling bola tepung menjadi naan. Bahkan si kecil Qozi membantu dengan menusuk-nusuk lubang di permukaan tiap naan. Hatcha-bu, memakai sarung tangan pelindung panas, menekan rata roti ke bagian dalam oven. “Barang siapa yang masuk ke dalam tandir sekali saja takkan pernah masuk neraka,” kicau Hatcha-bu. “Buka matamu dan perhatikan: setelah kamu menikah pengetahuan ini akan menghindarkanmu dari masalah,” katanya pada salah seorang cucu perempuannya. “Kamu tak bakal mesti makan makanan sampah di jalan bersama suami." Hatcha-bu mengulangi kuliahnya itu hampir seratus kali sambil terus mengajari Zumrad cara mengukus naan. “Ayah dan ibumu pergi ke Rusia membayangkan akan dapat gaji jutaan di sana, mungkin sekarang mereka mengemis, mengembara di jalanan. Mereka sambar semua tabunganku yang tadinya untuk pemakamanku, uang yang capek-capek kusisihkan dengan hanya makan remah-remah dan berpuasa.” Hatcha-bu menggumam, “Ini buatmu, ini buatmu, sisa-sisanya yang kayak tahi buatku.”

Para upik bergeming, hanya Qozi, seolah ia anak kesayangan, berani berkata, “Tapi, Nek, Nenek bilang sendiri ke Tante Zebi bahwa Ayah-Ibu mengirimi Nenek uang, kan?”

Amarah yang membara di dada Hatcha-bu berkorbar kembali. “Diam kamu, setan kecil! Malu kalau aku bilang ke Zebi yang pelit itu bahwa anak-anakku belum mengirimiku satu sen pun selama enam bulan! Bayangkan gosip yang disebarkan si mulut comberan itu!”

Suara seseorang terdengar dari selasar. Qozi merasa lega karena perhatian Hatcha-bu teralih. Zumrad berlari ke pintu.

 

Di balik pintu berdiri seorang pemuda yang necis. Ia tampak asing, tapi bicara dalam bahasa Uzbek dan bertanya, “Ini betul rumah In’om Hodja-aka?”

Zumrad bingung, karena sudah bertahun-tahun ia tak mendengar nama kakeknya itu, atau karena ia belum pernah melihat pemuda berpakaian senecis itu.

“Maaf, apa kata Tuan tadi?” tanya Zumrad.

“Ini betul rumah In’om Hodja-aka?” ulang si pemuda dengan senyum tipis.

“Ya, beliau kakek saya, tapi beliau meninggal bertahun-tahun lalu,” kata Zumrad.

Pemuda itu membuat isyarat dengan kedua tangannya untuk meminta maaf, sesuai cara Islam. Ia bertanya apakah ada orang dewasa di rumah.

Tepat saat itu terdengarlah teriakan dari pekarangan, "Zumrad, di mana kamu? Sudah ditelan bumi ya? Siapa di pintu?”

Zumrad, ketakutan dan malu, menuntun pemuda tadi ke dalam rumah.

“Nenek, orang ini cari Nenek,” jawab Zumrad.

Hatcha-bu menjulurkan kepalanya dari dapur sementara masih mengenakan sarung tangan, kemudian dilemparkannya naan ke keranjang dan terpincang-pincang menghampiri Zumrad dan pemuda tadi.

“Masuk, masuk, Nak. Apa kabar?” katanya, dan dalam hati ia berpikir, Angin apa yang meniupnya ke sini, dari penjuru bumi mana ia datang? Hatcha-bu menggiring pemuda necis itu melalui pekarangan.

Cuaca yang tadinya cerah kini berubah mendung, sentuhan segar dari arus sungai yang berkilau menawar panas dan sumpeknya udara. “Masuk, Nak sayang, kau tampaknya pemuda yang ramah. Setelah kulihat-lihat, wajahmu kelihatan akrab,” kata Hatcha-bu.

Si pemuda melebarkan tangannya, berdoa, bukannya menjawab. Hatcha-bu segera turut berdoa. “Karena Nak sudah jauh-jauh mencari kami ke sini, semoga Tuhan memberi Nak kebesaran di kedua dunia...” ucapnya, lalu menepuk-nepuk wajah untuk menutup doanya. Kemudian ia mempersilakan si pemuda duduk. Dengan hati-hati dipilihnya sebuah naan dari beberapa yang diantar oleh Zumrad, dan disobeknya. “Mari coba naan ini,” kata Hatcha-bu, lalu menoleh ke Zumrad, “Jangan bengong di situ seperti anak anjing, sana bikin teh!”

Pemuda itu menyela, melompat langsung ke inti masalah, daripada lama-lama memperkenalkan diri. “Pagi tadi saya datang ke pemakaman setempat, karena nenek saya dikubur di sini. Nenek saya termasuk kasta hodja murni, keturunan khalifah dan sahabat Nabi Muhammad. Ayah saya belum lama ini mulai memulihkan silsilah keluarga kami, tapi kami menemui beberapa masalah dengan ayah nenek saya. Kakek buyut saya, Kamol-hodja, tampaknya ditembak pada usia tiga puluhan. Semoga Tuhan memberkatinya.”

Zumrad datang membawa teko dan mengentakkannya ke meja. Hatcha-bu yang bermata tajam membentak, “Heh, anak kikuk, sengaja ingin teko pecah? Sana ambil buah!”

Oftob, Nozlijon, dan Qozi, yang mengintip dari dapur, terkikik-kikik sendiri. Si pemuda menerima secangkir teh yang ditawarkan kepadanya dan melanjutkan ceritanya.  

“Oleh karena itu, saya mencari keturunan beliau. Menurut ayah saya, ada seorang bernama Usman-hodja atau Yunus-hodja, ia sepupu nenek saya, yang juga tinggal di lingkungan ini. Saya tadi bertanya kepada pengurus pemakaman, dan ia mengirim saya ke sini. ‘Kalau Saudara tanya keluarga In’om Hodja, mereka pasti tahu,’ begitu katanya,” kata si pemuda.

Hatcha-bu, sambil mencelupkan naan ke tehnya, berkata, “Ya, MeliKozoq benar. Kami juga kaum hodja yang seperti kata pepatah ‘gila tiap sore’, dan tak ada hodja lain di kawasan ini, Nak.”

“Jadi Nenek tak kenal seorang bernama Usman-hodja atau Yunus-hodja?” tanya si pemuda lagi, ia meletakkan cangkir tehnya ke meja dengan setitik rasa kesal.

“Siapa nama nenekmu itu?” tanya Hatcha-bu dengan kalem, walau dalam hati ia berpikir: Buat apa aku tahankan kemarahan bocah ini, yang bahkan terlalu muda untuk jadi tahiku?

“Sharofat, putri Kamol-hodja,” jawabnya cepat.

“Sharofat yang bekerja di RS Qoplonbek?” tanya Hatcha-bu.

“Ya, itu dia! Nenek kenal?”

Hatcha-bu merengut. “Oh ya, saya kenal dia…” Jatuhlah kesunyian berat menimpa ruangan.

 

Betapa Hatcha-Bu kenal Sharofat! Perempuan itu nyaris saja membuat suami Hatcha-bu serong, seolah suaminya itu adalah anak sapi yang lugu. Hatcha-bu merasakan darah dan sengsara membanjiri kepalanya. Otaknya meletup dengan amarah. Bayang-bayang yang selama setengah abad telah berbaring dengan damai di bawah tujuh lapisan tanah kini mencuat kembali di hadapan matanya.

Saat itu akhir tahun '60-an. Hadidja-hon baru saja menikah dengan In’om-jon. Ayah upik-upik tadi telah lahir saat itu, dan Hadidja tengah hamil dengan anak kedua. Semua orang tahu kesulitan hidup pengantin baru: sehari-hari yang dilihat Hadidja hanya sikat, sapu, dan penggiling roti. Apakah ibu mertua mengizinkannya meneruskan sekolah? Tentu tidak. Suaminya, In’om-jon, telah memerintahkan Hadidja berhenti kuliah kedokteran.

Sepanjang hari, ibu mertua menyiksa Hadidja, dan pada malam hari suaminya pulang kerja dan ingin berhubungan, tak peduli Hadidja sedang hamil. Sepanjang malam, ia melayani suaminya atau merawat bayinya yang masih merah. Tanpa tidur, tanpa rasa damai. Hadidja merasa muak, dan saat itulah Hadidja mengubah dirinya menjadi Hatcha. Wajahnya kehilangan ekspresi, tubuhnya menjelma sekarung kulit dan tulang. Sekitar saat itu pula, Sharofat muncul sebagai musuh Hatcha nomor wahid.

Ketika itu, In'om bekerja sebagai manajer apotek di Qoplonbek, ia mengatakan kepada Hatcha bahwa ada perawat kepala yang baru saja dilantik di rumah sakit setempat. Ia "seorang wanita hodja," begitu In'om menggambarkan Sharofat. In'om akan akan menerima obat-obatan langsung darinya, dan mereka akan membagi keuntungan dan laba dari kerja sama mereka.

Hati Hatcha tergerus tipis dan meradang mendengarnya, tetapi ia tetap bungkam dan hanya memberi senyum palsu.

Malam berikutnya, In'om sambil bicara tentang pekerjaannya berkata, “Kaum hodja memang sangat aneh ya? Si Sharofat itu—perempuan yang membawakan obat-obatan—dipanggil Sharob oleh semua orang di rumahnya. Mereka gila apa?” Sharofat berarti kesucian, sementara Sharob berarti anggur.

Hatcha hanya mengangkat pundaknya yang ceking dan tetap diam.

Setiap malam, percakapan di rumahnya berakhir dengan si Sharofat-Sharob itu. Suatu malam Hatcha terbangun dan mendengar suaminya mendesah, “Sharob... Sharob...” Hatcha menangis dalam diam, memendam sedu-sedannya hingga pagi. Ia menyumpah dan mengutuk, menuangkan seluruh rasa sakitnya pada sosok Sharob si penjahat. Malam itu juga, Hatcha membuat rencana.

Saat tengah hari, Hatcha menciptakan alasan harus menemui dokter, ia menitipkan bayinya yang sudah kenyang ke ibu mertuanya, lalu naik bus ke Qoplonbek. Ia berencana tiba di sana saat makan siang dan masuk melalui gerbang belakang, yang dulu ia temukan ketika ia masih mahasiswa kedokteran dan ia gunakan untuk menemui calon suaminya. Ia memasuki apotek dan bersembunyi di salah satu lemari.

Lemari itu panas dan sumpek, tapi bersih tanpa debu. Hatcha berkeringat, tapi untungnya ia tidak sampai bersin. Setelah setengah jam, suami Hatcha memasuki apotek, bersendawa, kenyang setelah makan siang. Hati Hatcha berdebar-debar, ia dapat rasakan bayi di kandungannya panik dan menendang perutnya. Orang-orang datang dan pergi, botol-botol beradu, Hatcha-bu tidak tahu sudah berapa lama ia memata-matai suaminya di lemari itu. Kemudian ia melihat ambulans diparkir di pekarangan, seorang perawat turun hendak mengantar obat.

“Sharofat-hon, akhirnya kamu datang juga!” seru In’om-jon, terengah-engah karena gugup dan gembira.

Hatcha mendengar suara langkah-langkah kecil, melihat sebuah bayang-bayang memasuki apotek. Hatcha pun terengah-engah, tapi bukan karena gugup dan gembira.

“Sharofat-hon, aku sudah kangen sekali,” kata In’om, nafsunya terlihat jelas di antara nafasnya.

“Halo In’om-jon-aka,” kata si jalang, seolah merayu. “Ini obat-obatan yang kauminta.”

“Aku butuh obat-obatan yang lain, mengerti kan, nona cantik?” kata In’om.

“Hentikan, In’om-jon-aka, engkau sudah menikah!”

“Untukmu, sayangku, aku rela mengesampingkan keluargaku.”

Pintu lemari seolah bergerak sendiri, dan Hatcha yang tengah hamil berguling jatuh terbungkus segala macam pakaian, seperti hantu atau jin.

Hatcha tidak pingsan atau kehilangan kesadaran. Ia tidak menjambak rambut pelacur itu, tidak pula mencekik suaminya. Justru sebaliknya, ia terpesona melihat kecantikan si jalang itu, berdiri di tengah ruangan terbungkus seragam perawat, memainkan benang di ujung jaket putih yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang cantik. Yang lebih menonjol lagi adalah matanya yang seperti malaikat atau setan, orang hanya butuh sekali melihatnya untuk mengingatnya.

“Sejak kapan kamu sembunyi di situ, keledai?” teriak In’om kepada Hatcha.

Tersundut suara kasar suaminya, Hatcha menangis, meresapi parasnya yang jelek, tubuhnya yang kotor, lidahnya yang sumbang. Ia tak ingat kapan si malaikat Sharofat permisi, atau kapan suaminya menyewa mobil untuk membawanya pulang. Yang ia ingat hanyalah: ia mengadukan segalanya pada iparnya, Baba, sambil menangis.

Malam itu, sang ipar memangsa Sharofat di suatu tempat, mengejutkannya dan menikamnya. Setelah itu, sang ipar tak pernah pulang lagi, sebab ia dikirim ke Siberia sebagai hukuman.

Apa Hatcha kenal Sharofat? Oh ya, ia kenal!

 

“Hei, anak tolol," teriak Hatcha-bu lagi, "kenapa cuma berdiri di situ? Apa lihat-lihat? Kamu tahu tidak, tatapanmu itu sengit? Berhenti menatap dan sana lakukan perintahku!"

Zumrad mengisi ulang cangkir teh pemuda tadi, menatap Hatcha-bu dengan tajam, lalu melesat tanpa kata ke dapur.

Di sana Qozi mencolek Zumrad, “Tuh, lihat, kan! Sudah kubilang, kalau sepatumu sempit tak ada gunanya dunia lebar.” Qozi menyeringai.

“Ayo tehnya diminum, selagi masih hangat. Eh, tadi Nak tanya apa?” tanya Hatchabu.

“Oh ya, maaf,” si pemuda terpental dari kesunyiannya. “Saya tanya apakah Nenek kenal nenek saya Sharofat?”

“Tidak kenal secara langsung, dari mana aku kenal? Aku hanya dengar tentang dia dari sana-sini.”

Dari dapur terdengar Qozi melenguh seperti anak domba: “Nenek! Nenek!”

“Ya ampun, semoga Tuhan mencabut nyawaku dan kalian jadi telantar semuanya. Ada apa sih? Kenapa tak bisa diam?” Hatcha-bu balas berteriak. “Dasar anak-anak," tambahnya kepada si pemuda, "kalau ada mereka, orang dewasa tak bisa bercakap-cakap.”

“Lihat cucumu itu, Nek. Ia nangis, ia bilang mau bunuh diri,” kata Qozi.

“Siapa yang mau bunuh diri? Ia yang banyak makan banyak berak pula.” Hatcha-bu lekas-lekas memakai sepatu dan terhuyung-huyung ke dapur melalui pekarangan yang becek kena hujan barusan. “Dasar sapi, tak punya otak untuk tahu siapa yang capek-capek merawatnya!”

Si pemuda tak tahu harus berbuat apa—pergi atau tinggal. Ia terus saja duduk kebingungan.

Hatcha-bu berkata dalam hati, Mungkin kutunangkan saja si Zumrad ke pemuda itu? Sayang sekali darah neneknya kotor. Tapi ah... siapa bilang darah kami lebih baik? Disekanya bulir-bulir air dari wajahnya yang menetes jatuh dari sulur-salur anggur di atas kepalanya. Senyum matahari yang ompong menembus dedaunan. Hatcha-bu tersenyum sendiri, “Terkutuklah semua, kita semua hodja yang gila tiap sore.”


 Foto dari Index On Censorship

Foto dari Index On Censorship

HAMID ISMAILOV adalah penulis novel the Railway, the Dead Lake, the Underground, dan masih banyak lagi. Ia berasal dari Uzbekistan—di sana semua bukunya diberangus dan namanya pun tak boleh disebut. Pada 1992 ia dipaksa mengungsi dari tanah air dan hingga kini tak dapat kembali. Ia tinggal di Inggris dan terus menulis tentang berbagai tema yang hangat di dunia Islam. Cerpen di atas diterjemahkan dengan izin penulis, dari versi bahasa Inggris terjemahan Dani Ismailov yang diterbitkan Index on Censorship vol. 44 no.2.

Terjemahan di atas adalah bagian dari serial Sastra Berani atau Defiant Voices yang diterbitkan InterSastra untuk melawan pemberangusan buku serta pengekangan kebebasan membaca dan berdiskusi yang kini mencuat kembali di Indonesia. Juga untuk menunjukkan solidaritas dengan penulis di mana pun yang mengalami sensor dan penindasan. Untuk mengetahui lebih lanjut, mari tengok laman ini.

 

#Defiant_Voices

#Sastra Berani

#SastraTerlarang