M. Aan Mansyur

Translated by Miagina Amal

 

MOTHER'S BEST FRIENDS

1

Needles

For sewing, she says. Time is always a tattered
blanket. Its bones but mere home to a strange
illness she cannot name, the way
she names her loved ones.

2

Knives

Sometimes she hates the ripeness of fruits:
apples and tomatoes, taut-skinned
watermelons and mangoes, or fresh and
fair cucumbers.

Her younger years cannot return.
Father’s address cannot be found, too.

3

Scissors

Flowers and grass in the yard often becomes
gray hair on her head. She doesn’t want
an eerie forest to grow there. After all, she
never fails to wait for her children
to come home and kiss her forehead.

Or perhaps Father, bringing home
stories of adventures.

4

Mirrors

It’s not her breasts and cheeks she likes to talk with.
She likes to confront her eyes, so that they may
carry on and not surrender too soon to wet
seasons and nightmares always at the ready
to jump in.

 

SECRET ISLAND

You never knew. Far from
your eyes, I hid a secret island
where nothing grew.

No flowers.
No home.
No love either,
only its traces.

There was a lake. There, the sun would plunge
like blood dripping from a girl’s ring finger.

And I think of your name, and also the entire
childhood that once dwelt in my poem.

 

MY FACE IS A MUSEUM

Morning doesn’t call for anyone’s
name. Suddenly it’s my body that wakes up.
Walking on the floor towards the bathroom,
seeing once more the faucets, toothbrush, towels
and mirrors,

I see that my face has become
an empty museum. A building
that stores reproductions
in black and white, closets with
disheveled old clothes, and a piano
that no longer sings.

I am still strong. Spirited. I open
the door to greet the morning sun until you
write your name in the guest book. The last
visitor I should know by heart.

 

A PAIR OF SWEATERS

There is a sweater in my closet.
The inner fabric longs to embrace my body.
The outer fabric longs to embrace your body.

There is also a sweater in your closet.
Alone, embracing the same sentiment.

Yet our bodies are elsewhere.
Embracing their own solitude.

How unyielding the pair of sweaters is.
Freezing inside two closets that live
far apart, not knowing each other’s address.
How jealous the pair of sweaters is
when they hear that the wet season so loves
the lingering year.

Meanwhile, our bodies are elsewhere.
Embracing their own solitude.

How the pair of sweaters long
to cease embracing each of their own
memories.

 

TO SADNESS

At noon I cannot see sadness. Yet
at night I feel sadness can always
appear and caress my head—letting me
sleep on her lap like a child.

Television has altered my mind.
To close your eyes is to become a thief.
There is no beauty in easy things. My
two eyes will try to stay open. I choose
life as a reckless crook—knowing nothing
but to harm my own life.

In the morning, I know someone drives away
nightmares from your eyes with a kiss. You rise
as the most radiant color in the garden.

“If you want to say goodbye,
do it like the setting sun,” I said
to myself.

I’ll see you tomorrow morning.
Again.

 

PLAYING HIDE AND SEEK

I close my eyes by the mango tree
and count one two three four slowly
until ten. I let you flee, creating distance
and finding a hiding place. When you
are safe, I will sing and try to find you. I know,
somewhere, you are waiting for me, anxiously.

It feels like just two or three months, not ten,
the children in us haven’t really unattached themselves from us.

Yet, between the mango tree where I closed my eyes
and counted, and the silent place where you hide,
there now stretches a road. In its chest, strangers
and machines are traversing more quickly than time,
chasing one another and searching and searching and searching
and melting into what and why and when. You,
while no longer hiding, I cannot find.

Perhaps you got tired of waiting,
and I became restless, out of songs.

 

© M. Aan Mansyur. Translation © Miagina Amal.


SAHABAT-SAHABAT IBU

1. Jarum

Untuk menjahit, katanya. Waktu senantiasa selimut
compang. Tulang-tulangnya semata sarang penyakit
aneh yang tak bisa ia sebut namanya, sebagaimana
menyebut nama orang-orang yang ia cintai.

2. Pisau

Kadang ia benci ranum buah-buahan:
apel dan tomat merah, semangka dan mangga
berkulit kencang, atau mentimun segar
dan putih.

Masa-masa remajanya tidak bisa kembali.
Alamat ayah juga tak bisa ditemukan lagi.

3. Gunting

Bunga dan rumput di halaman suka berubah
jadi uban di kepalanya. Ia tidak ingin ada hutan
menyeramkan tumbuh di sana. Bagaimanapun ia
tak pernah lelah menunggu anak-anak datang
mencium keningnya.

Atau mungkin Ayah dengan oleh-oleh cerita
petualangan.

4. Cermin

Bukan dada dan pipinya yang suka ia ajak bicara.
Ia senang menantang sepasang matanya. Agar terus
bertahan dan tidak segera menyerah kepada musim
hujan dan mimpi-mimpi buruk yang selalu bersiap
melompat masuk ke sana.

 

PULAU RAHASIA

Kau tak pernah tahu. Aku sembunyikan
jauh dari matamu satu pulau rahasia
yang tidak ditumbuhi apa-apa.
Tak ada bunga.
Tak ada rumah.
Juga tak ada cinta,
kecuali jejak-jejaknya.

Ada seceruk telaga. Di situ, matahari akan jatuh
seperti darah menitis dari jari manis seorang gadis.

Dan aku mengenang namamu, juga seluruh masa
kecil yang pernah menghuni sajakku.

 

WAJAHKU ADALAH MUSEUM

Pagi sesungguhnya tidak memanggil nama
siapapun. Tiba-tiba tubuhku yang terbangun.
Berjalan di atas ubin menuju kamar mandi.
Menemui lagi keran air, sikat gigi, handuk,
dan cermin.

Aku menyadari wajahku betul-betul sudah
diresmikan jadi museum sepi. Bangunan
yang menyimpan gambar-gambar repro
hitam-putih, lemari dengan pakaian-pakaian
tua susah rapih, juga piano yang tidak lagi
bisa bernyanyi.

Aku masih kuat. Penuh semangat. Membuka
pintu menyambut matahari pagi hingga di buku
tamu namamu engkau catat. Pengunjung
terakhir yang harus aku ingat.

 

SEPASANG BAJU PENGHANGAT

Di lemariku ada satu baju penghangat.
Bagian dalamnya rindu memeluk tubuhku.
Bagian luarnya rindu dipeluk tubuhmu.

Di lemarimu juga ada satu baju penghangat.
Sendiri memeluk perasaan yang sama.

Tetapi tubuh kita sedang entah di mana.
Memeluk kesendirian masing-masing.
Alangkah tabah sepasang baju penghangat.
Kedinginan di dalam dua lemari yang tinggal
berjauhan tanpa saling tahu alamat.

Alangkah iri sepasang baju penghangat
mendengar kabar musim hujan sangat mencintai
tahun yang berjalan lambat.
Sementara tubuh kita sedang entah di mana.
Memeluk kesepian masing-masing.

Alangkah ingin sepasang baju penghangat
berhenti memeluk kenangan milik mereka
sendiri-sendiri.

 

KEPADA KESEDIHAN

Pada siang hari, aku tidak bisa melihat kesedihan. Tapi,
pada malam hari, aku merasa kesedihan selalu mampu
menampakkan diri dan membelai kepalaku—membiarkan
aku tidur di pangkuannya sebagai anak kecil.

Televisi telah mengubah pikiranku.
Memejamkan mata berarti menjadi pencuri. Tidak
ada yang indah dalam hal-hal mudah. Dua mataku
akan berusaha selalu terjaga. Aku memilih hidup
sebagai penjahat yang ceroboh—cuma tahu melukai
hidup sendiri.

Pada pagi hari, aku tahu ada seorang mengusir mimpi
buruk dari matamu dengan ciuman. Kau terbit
sebagai warna paling cerah di taman.

“Jika kau ingin mengucapkan selamat tinggal,
lakukan seperti matahari tenggelam,” kataku
kepada diri sendiri.

Sampai ketemu besok pagi.
Lagi.

 

BERMAIN PETAK UMPET

Kututup mata di depan, atau barangkali di belakang,
pohon mangga dan menghitung satu dua tiga empat
lambat hingga sepuluh. Kubiarkan kau berlari,
menemukan jarak dan tempat sembunyi. Ketika kau
sudah aman, kucari kau sambil bernyanyi. Kutahu,
di suatu tempat, kau cemas menunggu.

Rasanya baru dua tiga bulan, bukan sepuluh,
anak-anak belum sempat menanggalkan diri dari kita.

Tapi, di antara pohon mangga tempatku terpejam
menghitung dan sunyi tempatmu sembunyi, telah
dibentangkan jalanan. Di dadanya, orang-orang asing
dan mesin-mesin lalu-lalang lebih cepat dari waktu,
saling kejar mencari dan mencari dan mencari dan
mencair jadi apa dan kenapa dan kapan. Kau,
meski tak lagi sembunyi, tidak juga kutemukan.

Barangkali kau suntuk menunggu,
dan aku mulai cemas kehabisan lagu.

© M. Aan Mansyur.