Kisah Baru si Jubah Merah

Roald Dahl

SERIGALA JAHAT

Begitu Serigala merasa lapar
Dan ingin makan yang besar,
Ia mengetuk pintu rumah Nenek.
Ketika Nenek menjawab, ia berhadapan
Dengan gigi putih dan seringai mengerikan.
Serigala berkata, “Boleh aku masuk?”
Nenek malang amat sangat ketakutan
“Ia akan memakanku,” jeritnya blingsatan.
Dugaan Nenek memang tepat
Serigala menelannya bulat-bulat
Tapi badan Nenek kecil, keras, dan liat.
Serigala menjerit, “Perutku masih keroncongan!
Makanan tadi tidak memuaskan.”
Ia bolak-balik di dapur sambil melolong
Mencari-cari camilan untuk dicolong.
Serigala berkata, “Supaya bisa kenyang
Aku menanti si Jubah Merah pulang.”
Dikenakannya pakaian Nenek—mantel dan topi
(Yang tadi ia muntahkan kembali)—
Tak lupa ia kenakan kacamata
Lalu duduk pura-pura membaca.
Tak lama si Jubah Merah tiba,
Membuka pintu, menatap, dan berkata:

“Alangkah besar telingamu, Nenek…”
“Agar lebih baik mendengarmu, Adik…”
“Alangkah besar matamu, Nenek…”
“Agar lebih baik memandangmu, Adik…”

Serigala memandangnya dan tersenyum,
Rasanya pasti lezat, baunya sangat harum,
Dibanding neneknya yang susah digigit,
Pikirnya, daging anak ini pasti terasa legit.

Lalu si Jubah Merah berkata,
Alangkah lebat jaket bulu yang kaukenakan, Nenek...”

“Salah!” teriak Serigala. “Seharusnya, Adik,
Kau berkata, ‘Alangkah besar gigimu, Nenek...’
Ah, tak masalah apa katamu kali ini.
Aku akan melahapmu tanpa tunda lagi.”
Si gadis tersenyum dan mengucap salam,
Dan menarik pistol dari celana dalam.
Dibidiknya serigala tepat di hati
Dan ditembaknya hingga mati.

Beberapa minggu kemudian, di hutan
Si Jubah Merah pergi berjalan-jalan.
Penampilannya berubah, tidak seperti dulu,
Jubahnya tak lagi merah, ia pakai jaket bulu.
Ia bilang, “Halo, dan perhatikan semua:
Jaket baruku dari bulu serigala!”

 

TIGA BABI KECIL

Hewan yang kuanggap paling lucu
Adalah babi kecil bertubuh gemuk.
Babi itu imut, babi itu cerdik,
Kalau diajak main sungguh asyik.
Namun, selalu ada saja kecuali:
Seekor babi yang konyol sekali.
Dengar kisah babi yang satu ini,
Yang kutemui di hutan suatu hari.
Ia membangun rumahnya dari jerami—
Lantai, atap, dinding, dan serambi.
Serigala mengintai, meneteskan liur,
“Oh babi, kau akan kubuat semur.”

Babi kecil, babi kecil, boleh aku masuk?
Tidak boleh, tidak boleh, serigala berhati busuk!
Biar kutiup, kuembus, dan kuterbangkan rumahmu hingga ambruk!

Si babi kecil hanya melongo dan terpana
Ketika rumahnya terempas ke mana-mana.
Serigala bernyanyi, “Babi manis, babi sedap,
Kau akan kumasak dengan bumbu kecap.”
Benar saja, si babi yang berwarna pink
Dilumat dari hidung hingga buntut yang keriting.
Serigala berlalu, perutnya menggelembung.
Betapa kagetnya ia ketika lihat di gunung
Seekor babi lain, tinggal di rumah dari ranting.
Ia pun mendekat, memanggil, dan memancing:

Babi kecil, babi kecil, boleh aku masuk?
Tidak boleh, tidak boleh, serigala berhati busuk!
Biar kutiup, kuembus, dan kuterbangkan rumahmu hingga ambruk!

“Siap-siap, babi kecil!” kata Serigala kejam,
Lalu ia menarik napas dalam-dalam.
Si babi kecil menjerit-jerit ketakutan,
“Serigala, bukankah tadi kau sudah makan?
“Mari berdamai, mari berdiskusi denganku.”
Serigala menjawab, “Mari masuk ke dalam perutku.”
Setelah si babi dimasak dan disaus dan ditelan,
Serigala berkata, “Dua babi yang sangat memuaskan.
Hari ini aku sungguh merasa senang,
Karena bisa makan sampai kenyang.”

Pelan-pelan seperti seekor tikus kecil
Serigala menghampiri sebuah rumah mungil.
Di dalamnya tinggal seorang diri
Seekor babi kecil yang bersembunyi.
Tetapi babi ini, babi nomor tiga,
Cerdik dan pandai seperti manusia.
Rumahnya bukan dari jerami atau dahan,
Melainkan dari batu bata dan papan.
“Kau takkan bisa memangsaku!” teriak si babi.
“Kutiup terbang rumahmu,” jawab serigala ini.
“Kau harus tiup kuat-kuat, sedahsyat badai,”
Kata si babi, “Kuyakin napasmu tak memadai.”
Serigala meniup dan mengembus sekuat tenaga,
Tapi rumah si babi tetap tegak dan tak goyah.
“Kalau tak bisa kurobohkan,” kata serigala,
“Rumahmu akan kuledakkan ke udara.”
“Aku akan kembali pada tengah malam,
dengan membawa bom,” katanya masam.

Si babi menangis, “Dasar rakus! Dasar sadis!”
Ia pun langsung menelepon seorang gadis,
Si Jubah Merah yang cantik dan berani.
“Halo?” katanya di ujung sana. “Siapa ini?
“Oh, babi kecil. Ada apa menghubungi saya?”
“Tolong aku, Jubah Merah! Aku dalam bahaya.
“Serigala jahat ingin menerkamku,” kata babi tanpa sungkan,
“Kau sudah pernah menghadapi serigala, bukan?”
“Babi manis,” kata si Jubah Merah, “memang
Aku pernah melawan serigala dan menang.
Sekarang aku hendak mandi dulu,
Setelah itu akan langsung ke rumahmu.”
Tak lama kemudian, menembus hutan,
Datanglah si Jubah Merah di tengah hujan.
Serigala menatapnya, matanya berpijar,
Taringnya tajam, seringainya lebar,
Moncongnya menganga, kukunya panjang,
Air liurnya menetes-netes dari rahang.
Sekali lagi si Jubah Merah mengucap salam
Dan menarik pistol dari celana dalam.
Ia membidik dan menembak sambil tertawa.
Serigala pun tumbang tanpa nyawa.
Si babi kecil bersorak sepenuh hati,
“Hore, Jubah Merah, kau pahlawan sejati!”

Ah, babi manis, mestinya kau jangan percaya
Pada gadis-gadis dari keluarga kaya.
Kini Si Jubah Merah punya barang baru lagi:
Jaket bulu serigala yang indah sekali,
Ditambah sebuah tas yang juga elok
Dari kulit babi yang sangat montok.

 

© Roald Dahl Nominee Ltd.
 Diterjemahkan dan diterbitkan dengan izin pemilik hak cipta.
Hak cipta terjemahan bahasa Indonesia ada pada InterSastra.


Roald Dahl Nominee Ltd.

Roald Dahl Nominee Ltd.

ROALD DAHL adalah penulis Charlie and the Chocolate Factory, Matilda, The BFG, dan banyak lagi buku anak yang populer. Ia juga menulis naskah film You Only Live Twice dan Chitty Chitty Bang Bang. Pada 1970 bukunya Fantastic Mr. Fox diterbitkan, lalu pada 1971 film Willy Wonka and the Chocolate Factory diluncurkan. Enam cerita karangannya diangkat menjadi enam episode dalam serial televisi Alfred Hitchcock Presents. Selain itu, Tales of the Unexpected ditayangkan antara 1979-1988 di Inggris. Kedua cerita yang kaubaca di atas dipetik dari buku Revolting Rhymes yang terbit pada 1982. Setelah itu, Dahl menerbitkan dua buku otobiografi: Boy (1984) dan Going Solo (1986). Matilda diterbitkan pada tahun 1988. Dua tahun kemudian Dahl meninggal pada usia 74 tahun.

Eliza HandayaniComment