Defiant Voices

Untuk melawan pembubaran paksa acara kesenian, pemberangusan buku, serta pengekangan kebebasan membaca dan berdiskusi yang kembali marak di Indonesia, InterSastra menerbitkan serial Sastra Berani. Kami ingin memperlihatkan keberanian di hadapan tindakan represif dan menunjukkan solidaritas dengan penulis di mana pun yang mengalami sensor dan penindasan.

Sastra Berani mengetengahkan karya-karya yang berani mengungkapkan suatu kebenaran atau ketidakadilan, walau ditentang oleh penguasa, mayoritas orang, atau kelompok intoleran. Kami menerjemahkan dan menerbitkannya supaya anda dapat membaca dan mempertimbangkan sendiri nilai karya tersebut. Penguasa atau kelompok intoleran tak dapat dibiarkan mengatur apa yang boleh atau tak boleh kita baca, tak dapat merumuskan sendiri apa makna nilai-nilai Indonesia.

Karya-karya dalam serial ini berupa fiksi, puisi, esai personal, memoar, surat, dan cerita anak atau remaja. Awalnya serial ini bertajuk Sastra Terlarang, tetapi kami mengubahnya menjadi Sastra Berani, atau Defiant Voices, untuk menekankan mutu intrinsik karya dan menyoroti bahwa tidak semua karya yang kami ikutkan dalam serial ini terlarang hingga saat ini. Dengan menyuguhkan karya-karya dengan gaya segar, kami pun berharap pembaca menemukan hal-hal yang dapat menantang atau meluaskan pandangan. 

Banyak cara telah digunakan untuk membatasi keleluasaan penulis untuk mengutarakan pikiran atau mempertahankan integritas karya dan visinya. Penulis yang kami terbitkan dalam serial ini bisa jadi menulis buku yang dilarang terbit atau dimusnahkan, tak boleh diluncurkan atau diulas di media, dicabut dari toko buku atau perpustakaan. Mereka bisa jadi pernah ditangkap atau dipenjarakan karena tulisan mereka. Mereka bisa jadi dipecat dari pekerjaan mereka, dilarang memiliki pekerjaan intelektual, atau bahkan terpaksa meninggalkan tanah air demi keselamatan. Kriteria yang kami gunakan untuk menentukan apakah seorang penulis atau suatu karya dapat diikutkan dalam serial ini cukup luwes, antara lain untuk memperlihatkan kepada pembaca bahwa sensor dan pembredelan dapat terjadi dalam berbagai bentuk.

Serial ini akan memunculkan macam-macam alasan yang digunakan untuk memprotes sebuah buku: merusak moralitas, menghina kepercayaan mayoritas, bertentangan dengan narasi yang ditetapkan oleh rezim... Alasan-alasan itu melecehkan kemampuan individu untuk berpikir mandiri dan mencerna sendiri apa yang mereka baca, dan mencerminkan ketakutan akan hadirnya kisah tandingan yang dapat meruntuhkan ketidakadilan yang dianggap baku dan sakral.

Seringkali karya yang tadinya dikekang kini luas beredar dan banyak dibaca, alasan yang dulu digunakan kini tak mempan lagi. Karya Nadine Gordimer dilarang karena melanggar kebijaksanaan pemerintah, tapi kemudian pelarangan itu dicabut. Karya Boris Pasternak dilarang di Uni Soviet, tetapi memenangkan Anugerah Nobel Sastra. Karya Pramoedya Ananta Toer dipasung di Indonesia, tapi kini berpengaruh luar biasa terhadap sastra kita. Itulah satu lagi harapan kami dalam memulai serial ini: mengingatkan bahwa perlawanan tidak sia-sia. Mari kita berjuang bersama!

 

(September-Oktober 2016 kami menggalang dana untuk serial ini melalui Kickstarter. Sumbangan digunakan untuk membayar penulis, penerjemah, dan ilustrator, serta membiayai pemeliharaan situsweb. Teman-teman yang masih ingin menyumbang untuk serial ini, mohon gunakan tombol PayPal di samping. Terima kasih!)

 

#SastraBerani   

#Defiant_Voices

#SastraTerlarang

Vendy Methodos

Vendy Methodos

Recently in Indonesia intolerant groups, sometimes with help from the authorities, have been attacking and forcefully disbanding discussions, book launches, performances, film screenings, festivals, and other cultural events. Military men seized books from personal possessions, bookstores, a book fair. For a long list of such violations to citizens’ right to free expression, see http://id.safenetvoice.org/pelanggaranekspresi/.

Those attacks occurred despite the fact that since the fall of the authoritarian New Order regime in 1998, Indonesia has amended the constitution and signed laws to guarantee freedom of expression along with other human rights.

To stand up against attacks on cultural events and books, InterSastra is publishing Defiant Voices, an online series of "forbidden literature" in translation. The series features short literary works by writers from Indonesia and around the world have been censored, banned or challenged, or physically attacked for what they wrote. Occasionally we will publish Q&As with featured authors to discuss their writing life and experiences facing censorship.

By publishing the series we wish to express a spirit of defiance to the authorities who think they could curb our freedom to read. We want you to be able to read and decide for yourselves what the pieces have to offer you. Intolerant groups cannot be allowed to decide what we may or may not read, cannot be allowed to define by themselves what it means to be Indonesian. We want to stand in solidarity with the writers and acknowledge their courage to keep writing.

The series will show many excuses that have been used to ban or challenge books, many ways that have been used to restrict writers' freedom in expressing their vision or maintaining the integrity of their works. It will also show that works that were banned often have sparked meaningful change. Our readers will see that the fight to protect our freedom to write, read, and express ourselves is not in vain.

We hope you'll enjoy reading the series.

 

(September-October 2016 we raised funds for the series via Kickstarter. The funds will go towards paying writers, translators, and illustrators, to maintain this website, and to promote the series to reach wider readership. To all our donors, we thank you very much. If you missed our Kickstarter campaign and would like to donate to the series, please use the PayPal button below. We would appreciate it highly.)

 

 


InterSastra's Defiant Voices series is also supported by Vagabond Press, an independent English-language publisher based in Sydney and Tokyo, proudly publishing distinctive voices from Asia Pacific since 1999.


DAFTAR ISI | CONTENT

Richard Westall

Richard Westall

"Malaikat Pemberontak" oleh John Milton

Apa yang terjadi ketika seorang malaikat berani menentang Sang Penguasa Surga, yang dianggapnya adalah seorang tiran?

John Milton adalah seorang penyair dan penulis yang banyak menulis tentang dan membela kebebasan. Ia menerbitkan Areopagitica, sebuah pidato yang mendukung kebebasan berekspresi dan dipuji sebagai salah satu dokumen terbaik yang mengangkat tema itu. Ia merampungkan karyanya yang paling terkenal, Paradise Lost, pada 1663. Epos itu diterbitkan pada 1667, meraih sukses yang luar biasa, dan sampai sekarang sering disebut sebagai salah satu karya bahasa Inggris terbaik sepanjang sejarah. Karya-karya Milton lainnya termasuk History of Britain (1670), Paradise Regained (1671), dan Samson Agonistes (1671).

"Kunanti Datangnya Setan" oleh Mary MacLane

Aku terlalu muda untuk memikirkan damai. Bukan damai yang kuinginkan. Damai untuk mereka yang empat puluh dan lima puluh tahun. Aku menanti Pengalaman. Aku menanti datangnya Setan.

Mary MacLane adalah seorang penulis, feminis, dan pendobrak tabu. Ia menulis memoar dengan gaya pengakuan yang unik, jujur, dan dahsyat. Buku-bukunya The Story of Mary MacLane (1902), My Friend, Annabel Lee (1903), dan I, Mary MacLane (1917). Berkat bakat dan kerja kerasnya menulis, ia berhasil keluar dari kota asalnya yang terpencil, menjadi penulis yang amat populer, dan hidup sesuai keinginannya.

Harriet_Beecher_Stowe_by_Francis_Holl.JPG

"Orang yang Dianggap Barang" oleh Harriet Beecher Stowe

Nukilan novel yang menggambarkan dengan sangat hidup penderitaan dan ketidakadilan yang dialami para budak.

Harriet Beecher Stowe menulis novel, memoar, serta surat dan artikel. Novelnya yang paling terkenal adalah Uncle Tom's Cabin yang menyuarakan pedihnya kehidupan orang kulit hitam dalam perbudakan. Novel tersebut luar biasa populer dan mengubah pandangan masyarakat Amerika tentang perbudakan.

"Hikayat Cinta" oleh Ak Welsapar

Seorang putra tersiksa antara cintanya kepada ibu dan kekasihnya. Benarkah tak ada cukup ruang dalam hati laki-laki untuk dua perempuan?

Ak Welsapar adalah seorang penulis yang telah menerbitkan lebih daripada 20 buku. Di Turkmenistan, negara asalnya, buku-bukunya dicabut dari toko buku dan perpustakaan, dan dibakar. Ia mesti meninggalkan tanah airnya dan kini bermukim di Swedia. Novelnya yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris berjudul The Tale of Aypi.

"Stephen & Angela" oleh Radclyffe Hall

Kisah cinta Nona Stephen Gordon dengan Nyonya Angela Crossby. Kata Stephen kepada Angela: “Jika cinta kita adalah dosa, surga pasti penuh dengan orang-orang yang berdosa seperti kita.”

Radclyffe Hall adalah penyair dan penulis novel the Well of Loneliness (terbit 1928). Novel tersebut dihentikan penerbitannya di Amerika Serikat dan divonis cabul oleh pengadilan Inggris karena mengetengahkan kisah cinta lesbian. Kontroversi itu justru melimpahkan perhatian terhadap novel dan topik tersebut.

"Hatcha-bu" oleh Hamid Ismailov

Setelah suaminya wafat dan anak-anaknya meninggalkannya, Hatcha-bu mengurus cucu-cucunya seorang diri. Suatu hari datanglah seorang pemuda yang mengingatkannya akan masa lalu.

Hamid Ismailov adalah penulis novel the Railway, the Dead Lake, the Underground, dan masih banyak lagi. Ia berasal dari Uzbekistan—di sana semua buku karyanya diberangus dan namanya pun tak boleh disebut. Pada 1992 ia dipaksa mengungsi dari tanah air dan hingga kini tak dapat kembali. Ia tinggal di Inggris dan terus menulis tentang berbagai tema yang hangat di dunia Islam.

"Kairo Kami" oleh Ahmed Naji

Pemuda dua puluhan menikmati masa muda bersama kawan-kawan sehati di Kairo—berpesta dan bercinta di Kairo mereka.

Ahmed Naji dijatuhi hukuman penjara karena tulisannya dalam novel Istikhdam al-Hayah (Using Life atau The Use of Life) dianggap merusak moral pembaca. Tanggal 12 Mei 2016, penulis di berbagai belahan dunia mengadakan acara solidaritas membaca dan mendiskusikan karyanya.

Syair-syair Ashraf Fayadh

darah bisumu takkan bicara
selama kaubanggakan dirimu dalam maut
selama terus kauumumkan, diam-diam, kauletakkan jiwamu
di tangan-tangan mereka yang tak tahu…

Pemerintah Arab Saudi menuduh karya Ashraf Fayadh mempertanyakan agama dan menyebarkan ateisme, lalu menjebloskannya ke penjara. Ashraf Fayadh sendiri membantah tuduhan itu dan mengatakan syair-syairnya adalah tentang kehidupannya sebagai pengungsi Palestina di Saudi.