Program Penerjemahan Sastra Pasca Frankfurt

RABU, 14 OKTOBER 2015, saya memenuhi undangan direktur Literature Across Frontiers Alexandra Büchler menjadi pembicara pada panel “Making Literature Travel between Europe and Asia” yang digelar di panggung Weltempfang, Pekan Raya Buku Frankfurt, Aula 3, pukul 13:00. Sementara Alexandra memoderasi diskusi, dua pembicara lainnya adalah Vinutha Mallya serta David Lopez-del Amo, agen sastra yang bekerja masing-masing di India dan Tiongkok.

Salah satu pertanyaan yang diangkat pada panel tersebut adalah: “bagaimana sastra menemukan jalan ke penerbit asing di tengah industri buku global yang sarat persaingan?”

Uraian saya mencoba menjawab pertanyaan di atas. Selain agen, penerjemah pun berperan penting. Banyak terjemahan buku tercapai berkat proposal yang diajukan ke penerbit oleh penerjemah yang paham akan sastra suatu negara. Penerjemah dapat menjadi narasumber yang memberitahu penerbit di negaranya buku-buku mana saja yang akan laku di pasaran negara mereka.

Sayangnya, masih belum banyak penerjemah andal sastra Indonesia, baik ke bahasa Inggris maupun bahasa-bahasa Eropa lainnya. Oleh karena itu, penting agar Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melanjutkan Program Penerjemahan Sastra, yaitu dengan berinvestasi pada penerjemah.

Investasi tersebut dapat diwujudkan dalam pelbagai bentuk. Pertama, adakan pelatihan dan lokakarya penerjemahan sastra. British Centre for Literary Translation (BCLT), sekarang di Writers Centre Norwich, tiap tahun mengadakan lokakarya penerjemahan sastra dan program mentoring. Pada 2012 dan 2013 BCLT bekerja sama dengan InterSastra mengadakan lokakarya serupa di Jakarta, seminar tentang masalah-masalah seputar penerjemahan sastra, pembacaan karya penulis-penulis Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Inggris, serta forum diskusi antara penerjemah dan penerbit untuk membicarakan masalah-masalah yang menjadi perhatian bersama. BCLT sudah menyampaikan minatnya untuk mengadakan pelatihan intensif bagi penerjemah sastra Indonesia, dan niat ini sudah kami sampaikan kepada panitia Program Penerjemahan Sastra. Pelatihan intensif tersebut akan melatih penerjemah tidak hanya soal seni dan tehnik penerjemahan, tetapi juga memberi mereka bekal tentang bagaimana mengusulkan buku kepada penerbit, bagaimana menegosiasikan kontrak, dan keterampilan-keterampilan serupa yang dibutuhkan seorang penerjemah sastra.

Kedua, latih penerjemah untuk membangun jaringan relasi dan mengajukan proposal buku ke penerbit-penerbit internasional. Acara-acara seperti Translation Pitch yang diadakan European Literature Night membantu penerjemah mengasah kemampuan mereka mengusulkan sebuah buku secara singkat dan profesional (pitch) dan memberi kesempatan kepada penerjemah untuk mempromosikan penulis yang karyanya mereka kagumi. Kemudian, pitch-pitch tersebut bisa disiarkan melalui media sosial sehingga informasinya tersebar semakin luas dan lantang.

Ketiga, adakan Program Pertukaran Penerjemah. Banyak negara Eropa memiliki institusi yang khusus mendanai penerjemahan sastra negara mereka. Program Penerjemahan Sastra Indonesia dapat bekerja sama dengan institusi-institusi Eropa itu dalam menjalankan Program Pertukaran Penerjemah – seorang penerjemah Indonesia yang menerjemahkan buku, katakanlah, oleh penulis Jerman bisa tinggal di Jerman selama beberapa waktu untuk menggarap terjemahannya, dibiayai oleh organisasi penerjemahan Jerman; sebaliknya, seorang penerjemah Jerman yang menerjemahkan buku karya penulis Indonesia bisa tinggal di Indonesia selama menggarap terjemahannya, dibiayai oleh Program Penerjemahan Sastra Indonesia.

Dalam makalahnya untuk seminar InterSastra 2012, Olivia Sears, direktur Center for Arts of Translation, San Francisco, menulis, “Beberapa negara yang sastranya kurang diterjemahkan menemukan sukses dengan mengundang editor dan penerbit asing terpilih ke negaranya untuk bertemu dengan penulis.” Indonesia pun dapat melakukan ini.

Dan sebaliknya, Indonesia dapat mensponsori penulis-penulis Indonesia ke berbagai festival dan acara sastra di dunia, barangkali bekerja sama dengan kedutaan di luar negeri. KBRI di luar negeri pun dapat memberi hibah buku-buku Indonesia kepada perpustakaan dan sekolah-sekolah setempat.

Ada baiknya Program Penerjemahan Sastra juga menciptakan katalog daring berisi contoh terjemahan buku-buku Indonesia dalam bahasa Inggris. Katalog ini mesti mudah diakses oleh penerbit-penerbit asing yang mencari buku-buku Indonesia.

Pada seminar InterSastra 2012, Professor Lily Rose Tope dari University of the Philippines menyoroti betapa pembaca di negara-negara Asia Tenggara tidak membaca karya sastra negara-negara tetangga, walaupun bisa jadi mereka membaca sastra Amerika atau Eropa. Jelas masalah bahasa adalah penghalang, tetapi beberapa negara tetangga kita berbahasa Inggris, seperti Singapura dan Filipina, dan jika kita memperbanyak penerjemahan antara Indonesia dan negara-negara itu, kita akan membuka pintu bagi penerjemahan ke dalam bahasa-bahasa lain di Asia Tenggara dan dunia.

Pada panel di Weltempfang, Vinutha Mallya memaparkan bahwa kebanyakan sastra India di panggung dunia diwakili oleh penulis yang menulis dalam bahasa Inggris, padahal banyak penulis yang menulis dalam bahasa-bahasa India lainnya, seperti Gujarati, Bengali, dll. Vinutha ingin untuk menerjemahkan karya-karya itu sehingga pembaca dunia mendapat gambaran yang lebih utuh tentang sastra India. Namun, ia sering menemukan bahwa karya-karya tersebut kurang disunting dengan baik. Maka, ia tidak hanya menjadi agen, tapi juga mengadakan pelatihan penyuntingan bagi penulis dan editor. Saya memperhatikan banyak keluhan serupa dari penerjemah tentang karya-karya dari Indonesia, maka ada baiknya Program Penerjemahan Sastra Indonesia turut mengadakan pelatihan penyuntingan bagi penulis dan editor Indonesia.

Selain itu, Vinutha bekerja membantu mengembangkan infrastruktur bagi penulis India, misalnya dengan mengadakan pelatihan untuk penulis agar lebih paham tentang hak cipta dan menciptakan jaringan penerjemah yang mampu menerjemahkan dari bahasa-bahasa daerah di India. Keprihatinan akan lemahnya infrastruktur bagi penulis juga diutarakan oleh David Lopez-del Amo yang bekerja mempromosikan sastra asing di Cina dan sastra Cina mutakhir di Eropa. Ia menyebut bahwa banyak penerbit Cina tak mahir mempromosikan buku-bukunya dan festival sastra masih sangat jarang dan cenderung terbatas pada kalangan universitas, sehingga khayalak umum kurang memperoleh informasi tentang karya sastra dan sulit bagi penulis-penulis muda di Cina untuk menarik perhatian editor luar negeri.

Kesulitan ini pun dihadapi oleh penulis Indonesia. Program Penerjemahan Sastra akan menjawab sebuah kebutuhan yang nyata dengan membangun infrastruktur bagi penulis: adakan seminar hak cipta bagi penulis dan editor, dukung penulis yang berkarya dalam bahasa daerah, kembangkan acara di mana penulis, penerjemah, dan editor bisa bertemu dan bekerjasama, kirim penulis Indonesia untuk hadir dalam festival sastra di dalam dan luar negeri.

KARENA BANYAK PENERBIT asing tak ingin membayar biaya penerjemahan, semakin jelaslah perlunya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melanjutkan Program Penerjemahan Sastra. Namun, daripada memberi subsidi kepada penerbit-penerbit dalam negeri, Program Penerjemah Sastra semestinya memprioritaskan penerbit-penerbit luar negeri, terutama yang memiliki rencana pemasaran dan promosi yang solid, apabila tujuan program tersebut memang untuk menyampaikan sastra Indonesia ke pembaca manca negara.

Apabila Program Penerjemahan Sastra telah memberi subsidi kepada penerbit dalam negeri untuk menerjemahkan sebuah buku ke bahasa Inggris, lalu ada penerbit Inggris yang ingin menerbitkan buku tersebut tapi tak suka dengan terjemahan yang sudah diterbitkan oleh penerbit dalam negeri dan ingin mempekerjakan penerjemah lain, hal ini bisa berakibat dipakainya dana publik dua kali, karena harus membayar subsidi untuk penerjemahan ulang oleh penerbit Inggris tersebut.

Ada keluhan dari penerjemah yang bekerja dalam program penerjemahan tahun ini, banyak mesti menggarap beberapa buku sekaligus, bergulat dengan tenggat waktu yang terlalu sempit, dan nama mereka tidak disebut sebagai penerjemah di dalam buku. Entah berapa banyak subsidi yang dibayarkan kepada penerjemah dan apakah penerjemah dapat mempertahankan hak cipta atas terjemahannya. Terlebih lagi, penerjemah WNI menerima honor lebih rendah daripada WNA—sekalipun buku yang diterjemahkan WNI itu diterbitkan di pasar-pasar kunci seperti Amerika dan Australia, sekalipun penerjemah WNI itu tinggal di negara yang biaya hidupnya lebih tinggi daripada Indonesia. Honor untuk penerjemah WNI adalah Rp 140.000 ke bahasa Inggris dan Rp 160.000 ke bahasa Jerman; honor penerjemah WNA adalah Rp 300,000 ke bahasa Inggris dan Rp 480,000 ke bahasa Jerman. Bukankah ini penggunaan dana publik yang mendiskriminasi terhadap warga negara pembayar pajak, sumber dana itu sendiri?

Memang kebanyakan penerjemah sastra andal menerjemahkan dari bahasa asing ke bahasa ibu, tapi apabila penerjemah WNI sanggup mencapai standar yang sama tinggi, ia layak mendapat bayaran setimpal. Kualitas karya sajalah yang mesti menentukan tingginya honor, bukan kewarganegaraan. Meningkatkan penghargaan kepada penerjemah akan meningkatkan kualitas terjemahan yang mereka hasilkan.

PENERBIT-PENERBIT INDONESIA PUN dapat mengambil inisiatif untuk melaksanakan kiat-kiat di atas demi mempromosikan penulis-penulis mereka. Mereka bisa mengirim buletin secara berkala ke penerbit-penerbit asing untuk mempromosikan terbitan-terbitan terbaru. Selain itu, ikutkan buku-buku yang mereka terbitkan dalam bahasa Inggris dalam berbagai kompetisi buku internasional.

Selain mendorong pemerintah dan penerbit untuk melaksanakan kiat-kiat di atas, penerjemah sendiri dapat berinisiatif mengadakan acara-acara yang menarik perhatian umum. Tujuannya untuk mempromosikan buku-buku yang ingin atau sudah mereka terjemahkan dan meningkatkan apresiasi publik terhadap penerjemah. Beberapa contoh:

Translation Duel, acara rintisan BCLT. Di atas panggung dua penerjemah membeberkan terjemahan masing-masing atas sebuah teks yang sama dan saling berdebat mengapa masing-masing memutuskan menerjemahkannya begini dan bukan begitu. “Waktu aku tampil, aku ajak teman-teman menonton,” kata Rosalind Harvey, penerjemah sastra berbahasa Spanyol yang pada 2014 masuk daftar pendek Independent Foreign Fiction Prize. “Setelah pulang, teman-temanku bilang mereka sadar pekerjaanku tidak sama dengan tukang ketik, mereka lihat pekerjaanku ternyata menantang dan asyik.”

Katy Derbyshire, penerjemah kawakan sastra Jerman ke bahasa Inggris, menyusun blog Going Dutch with German Authors—tiap minggu ia keluar bersama seorang penulis Jerman dan berbincang santai tentang apa saja. Blog ini cara yang asyik dan ringan untuk menarik minat umum terhadap para penulis. Barangkali penerjemah sastra Indonesia dapat menciptakan kegiatan serupa.

Chinese Short Story Year, oleh Paper Republic, menerbitkan daring satu karya pendek dari penulis Tiongkok tiap minggu. Dengan jeda penerbitan yang singkat dan berkala, proyek itu senantiasa segar. Tiap minggu memberi kesempatan promosi baru. Dan, karena karya-karya yang ditampilkan pendek, ia mampu menarik pembaca-pembaca baru yang sebelumnya kurang berminat membaca sastra Tiongkok.

Penerjemah juga dapat bekerja sama dengan penulis untuk mengirim karya-karya mereka ke berbagai jurnal dan majalah sastra luar negeri—banyak yang kini menerima karya terjemahan. Penerjemah tak lagi mesti membatasi diri pada media yang berspesialisasi pada karya terjemahan. Sastra Indonesia layak ditempatkan dalam peta sastra global, tidak hanya bersama sesama penulis Indonesia, tidak hanya sebagai sastra dari Indonesia, tapi sebagai bagian dari sastra dunia.

Sebagai timbal balik, penulis mesti mendukung penerjemah dan tak lupa menghargai mereka. Dengan kreativitas dan keterampilan bermedia-sosial, penulis dan penerjemah kini dapat melakukan begitu banyak untuk menyorot karya-karya yang mereka kagumi dan menyebarkannya lintas negara dan benua.

Di Weltempfang, saya pun memanfaatkan kesempatan untuk mengumumkan akan diterbitkannya koleksi “Diverse Indonesia”, yaitu kumpulan karya penulis Indonesia yang sedang InterSastra terjemahkan ke bahasa Inggris. Seperti sering terjadi di negara-negara tamu kehormatan Pekan Raya Buku Frankfurt sebelumnya, di Indonesia sempat muncul kontroversi mengenai pemilihan penulis-penulis yang diterjemahkan dan diberangkatkan ke Frankfurt. Ketika InterSastra menerima undangan dari Literature Across Frontiers untuk menghadiri Pekan Raya Buku Frankfurt, saya memutuskan untuk membuka ruang bagi penulis-penulis yang kebetulan belum terpilih oleh panitia Indonesia agar namanya dapat turut muncul dalam pekan raya itu. Kegiatan itu merupakan wujud dukungan kami untuk panitia Indonesia.

Pada Agustus kami mengundang kiriman karya, yang kemudian selama September kami baca tanpa melihat nama penulisnya, agar dapat memfokuskan penilaian pada kualitas karya di atas kertas. Kami menerima kiriman dari penulis kondang dan pemula, banyak karya-karya mereka telah diterbitkan di pelbagai media, diikutkan dalam antologi, atau memenangkan anugerah seperti Kusala Sastra Khatulistiwa. Karya-karya yang kami pilih kebetulan oleh penulis-penulis muda kelahiran tahun ’80-an dan ’90-an, yang akan membentuk lanskap sastra Indonesia masa depan.

Inisiatif di atas adalah dari, oleh, dan untuk penulis dan penerjemah—semuanya bekerja secara sukarela, tanpa dibayar. Meskipun kami merasa senang bekerja bakti untuk turut memunculkan sastra Indonesia di panggung dunia, kami berharap selanjutnya akan mendapat dukungan dari panitia Program Penerjemahan Sastra, agar jangkauan kerja kami menjadi lebih luas.

Dengan investasi jangka panjang pada penerjemah dan infrastruktur untuk penulis, Program Penerjemahan Sastra dapat mendatangkan manfaat lebih luas dan lebih langgeng bagi sastra Indonesia, tidak hanya untuk penampilan tahun ini di Pekan Raya Buku Frankfurt.***

~

Bagian pertama artikel ini terbit di KORAN TEMPO, 19 Desember 2015. Ia juga terbit dalam bahasa Inggris di THE JAKARTA POST, 19 Desember 2015.